Ervina Aidin
Di masa lalu, kisah pahit melibatkan diriku, seorang perempuan kecil yang hanya berdiam diri dan tertunduk dalam kesepian di lautan teman yang berubah menjadi badai kebencian. Terdorong oleh desakan teman yang penuh tipu daya, mereka yang perlahan menjauh seperti dedaunan yang terhempas oleh angin yang kencang. Di setiap langkahku jejak-jejak pertamanan yang dulu bersinar dan penuh kehangatan tetapi kini dipenuhi bayang-bayang pengkhianatan. Hatiku benar-benar terguncang dan kini semuanya bagai awan gelap yang menutupi indahnya langit.
Di tengah kehampaan, aku mencoba terus berlari sambil tertatih-tatih mencari cahaya di kegelapan. Meskipun kekecewaan itu tetap terasa, tetapi aku terus berusaha bangkit dan terus bangkit untuk mengais sedikit serpihan harapan yang ada di depan mata.
Namun, hinaan dan ejekan yang dilontarkan begitu kejam dan menyayat hati bagaikan pisau yang tajam. Perempuan kecil ini hanya terdiam dan tertunduk yang disertai aliran air mata yang membasahi pipi kecilnya ini. Penderitaan itu tak berhenti di sana, melainkan berlanjut dalam perjalanan pulang yang sunyi. Terdapat sekelompok anak laki-laki yang melakukan cat calling di jalan yang aku lalui. Kata-kata yang tak pantas dilontarkan begitu menggema di telingaku yang hanya menyisakan jejak luka. Aku terus berlari dan hanya diam dalam kebisuan serta merintih dalam kesunyian tanpa ada yang mendengar.
Komentar
Posting Komentar