Langsung ke konten utama

ROMANTISASI MASA YANG BERMAKNA

 ROMANTISASI MASA YANG BERMAKNA


   Berbicara perihal pengalaman selama bersekolah di SMAN 1 CIKALONGWETAN, itu sungguh tidak akan cukup jika diceritakan dalam satu halaman bahkan satu hari. Tapi kurang memungkinkan pula, jika harus aku ceritakan satu persatu disini. Banyak orang yang mengatakan bahwa masa putih abu adalah masa indah dan yang paling berkesan. Sebuah peralihan masa, dimana pindahnya masa remaja menuju dewasa awal. Terhitung sejak bulan Juli 2021 hingga sekarang bulan Februari 2024 sebagian besar kehidupan dan waktuku, aku habiskan di SMA. Dan ya, pernyataan orang lain di kalimat sebelumnya, ternyata bukan sekadar ucapan semata, namun sebuah fakta. Berbagai kisah suka duka sangat terasa dibandingkan masa sebelumnya, saat putih biru. 

Menjadi salah satu orang yang berhasil diterima melalui jalur prestasi selama di SMP dan diberikan kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan menengah akhir disini adalah sebuah hal yang berharga dan luar biasa bahagia untuk diriku, tak terkecuali orang tuaku. Mengetahui bahwa aku ditempatkan di kelas H, rasanya takut. Takut tidak mendapatkan teman. Takut tidak bisa menjadi seorang siswa yang lebih baik dari sebelumnya. Takut tidak bisa mengukir kenangan. Takut tidak bisa mendapatkan pengalaman. Dan takut tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tua. Namun semua ketakutan tersebut berhasil aku kalahkan. 

Kala itu, karena maraknya COVID - 19 membuat seluruh masyarakat harus berdiam diri dirumah dan melakukan aktivitas seperti biasanya di rumah saja. Begitu pula kegiatan PLS ku yang dilaksanakan full online. Diperkenalkan lebih dalam oleh kakak-kakak pendamping tentang SMAN 1 CIKALONGWETAN, membuatku semakin antusias untuk segera melakukan kegiatan belajar secara offline. Karena selama BDR tidak sedikit tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok, aku pun mau tidak mau harus mendekatkan diri dengan rekan sekelas, dan mencari rekan untuk di ajak satu kelompok. Dan ya, Alhamdulillah, aku menemukan rekan ku itu. Seorang siswi pertama yang menjadi teman sekelompok ku saat itu, bahkan hingga saat ini kami sudah sangat dekat. Adelia Putri Apriliani aka Adel.




Foto di atas adalah pertama kalinya kami bertemu, dan saat itu kami langsung pergi bermain bersama. Senang rasanya bisa mengenal dan berteman dengan Adelll (kalo Adel baca ini, aku izin add foto ini ya deell).

Disaat BDR berlangsung, kala itu aku mendapatkan informasi bahwasanya organisasi-organisasi sedang open recruitment. Dan ya, dari sekian banyaknya organisasi yang ada, aku tertarik pada 2 organisasi. OSIS dan Pramuka. Proses pendaftaran, seleksi, dan perkenalan organisasi pun aku ikuti dengan sepenuh hati, walaupun pertemuan dengan kakak-kakak yang luar biasa dilakukan melalui layar. Bahkan, tahap wawancara melalui layar pun telah aku lalui. 



Okay, kita lanjutkan.

Tiba saatnya KBM di sesi, dan tidak lama dari itu mulai diberlakukan sekolah full siswa. Berinteraksi dengan teman-teman sekelas secara langsung, melakukan pembelajaran secara offline yang mana sudah pasti tugas tugas pun lebih banyak, serta melaksanakan kegiatan organisasi dalam situasi penyesuaian membuatku cukup keteteran. Wajar saja bukan, kurang lebih 1 tahun berdiam diri di rumah, tidak melakukan banyak aktivitas, lalu tiba-tiba melakukan kegiatan seperti dulu kala, mengharuskan aku menyesuaikan lagi dengan kebiasaan sekaligus lingkungan baru. 

Ada hal baru yang harus aku lalui di SMA. Projek. Pembelajaran berkolaborasi dan praktik langsung secara nyata. Rasanya, cukup berat. Namun tak urung aku pun dapat melaluinya hingga projek terakhir, projek ke 7, di kelas XII semester 1. Mulai dari membuat sebuah makalah, melakukan penelitian, membuat sebuah kerajinan dengan cara me-recycle, memproduksi sebuah film pendek dengan naskah yang harus disiapkan bersama kelompok, membuat sebuah karya 3D (pop up) yang isinya tentang keberagaman provinsi Papua, menyusun dan melakukan sebuah langkah wirausaha dengan berdagang, membuat sebuah makanan yang berlatarbelakang gaya hidup sehat, dan yang terakhir, belajar mempersiapkan pemilihan legislatif dan eksekutif, yaitu mengabdikan diri untuk mensukseskan suara demokrasi kecil-kecilan (xixixixixi). Rasanya sangattttttttt luar biasa. (di bawah ini, sebelah kiri, aku lampirkan foto pertama kali aku melakukan presentasi untuk projek pertama pada P5. Dan di sebalah kanan, aku lampirkan sebuah foto untuk terakhir kalinya berpatisipasi pada kegiatan P5, projek terakhir)


Tidak hanya P5, disaat aku sudah ada di bangku kelas XI pun hal baru datang kembali dalam kehidupanku. Moving class atau kelas peminatan. Pembelajaran ini membuatku harus dapat menyesuaikan kembali dengan orang-orang baru, karena pada sitem pembelajarannya mengharuskan aku dengan yang lain berpindah kelas disetiap pergantian mata pelajaran. Karena itu, otomatis siswa-siswi yang ada di kelas pun berasal dari kelas berbeda-beda, bukan hanya dari kelas H. Semenjak ada di bangku kelas XI, ketika akan menghadapi hari Selasa dan Rabu rasanya langsung lemas dan terasa sedikit ‘malas’ (maklum ya temen-temen, siapapun bisa malas). Walaupun begitu, kelas peminatan tetap aku hadapi dan dijalani dengan sebaik mungkin. Setelah di lalui, ternyata kelas peminatan tidak seburuk yang ada di pikiran. Bertemu dengan orang baru, membuat relasi ku bertambah. Ya meskipun merasa bahwa di kelas peminatan itu cukup membosankan (mungkin karena berbeda kelas, jadi tidak terlalu peduli satu sama lain). Kelas peminatan Kimia (🙇🏼‍♀️), Bahasa Inggris (😁), Ekonomi (😍⭐), dan Matematika minat (😵‍💫🤝🏻) sebentar lagi akan segera berakhir. Kesedihan sedikit terasa karena nanti tidak akan lagi berpindah-pindah kelas dengan rasa ‘malas dan takut panas’. 


(Ini foto saat di kelas peminatan kimia saat praktikum di ruang laboratorium bersama kelompok 2 di XII KIMIA 1)


Sudah saatnya disini adalah bagian aku untuk menceritakan kebersamaanku dengan kelas H dan teman-teman ku yang lainnya. Seperti yang aku singgung sebelumnya, saat kelas X pembelajaran dilakukan secara BDR dan kelas sesi. Hal ini membuatku hanya kenal dengan beberapa orang saja, yang satu sesi dengan ku. Dan disaat pembelajaran full offline tanpa sesi-sesi, aku pun mulai mengenal satu persatu dengan teman-teman sekelas secara menyeluruh. Seiring berjalannya waktu, kedekatan antara satu kelas pun mulai terjalin, walaupun tidak sepenuhnya. Orang-orang yang selalu menorehkan canda tawa, kebersamaan, kekesalan, dan hal-hal absurd lainnya, semua sudah terekam dalam ingatanku. Sangat bahagia dan senang rasanya menjadi bagian dari kelas H angkatan 2021.


Kelas XI ialah masanya aku mulai terjalin kebersamaan dengan kelas H, terutama dalam kelompok. Di kelas XI pula aku mulai berteman dekat dengan Mariam (iam). So, hingga saat ini, kami, terkhususnya aku sendiri dan juga Adel, dalam berbagai kegiatan di sekolah maupun di rumah, tidak sedikit waktu kita habiskan dan lalui bersama-sama. Begitupun teman-teman sekelas yang lainnya^^ 

Oh.. one more. Karena aku tergabung dalam sebuah organisasi intrakurikuler, aku memiliki teman dekat baru. Siapa??

Bu Ketum kita (Ketua MPK a’40). 



Siapa lagi kalau bukan Resmi Amalia? Bersyukur sekali dapat mengenal Teh Resmi ini. Karena dengan beliau, kita tidak hanya mempertemankan diri kita saja, namun dengan organisasi yang kita ikuti pula. 

Oh, dan jangan lupa. Sahabatku yang memiliki kepribadian tak terhingga dan terkira ini. Seorang perempuan yang memiliki bakat menyanyi dan menggambar. Ya tepat. Nabila Putri Ramadhani, kelas XII I. Sahabatku, sejak masa putih biru. Suka duka, dia telah aku bebani. Terimakasih Bu bill..



    Dan yang terakhir, cerita ‘life as a activist’. Yap, kehidupan organisasi. Sebelumnya sudah aku ceritakan sedikit perihal diriku yang berminat dan mendaftarkan diri di OSIS dan Pramuka. Keduanya memiliki posisi masing-masing dalam hidupku. Begitupun aku. Aku memiliki peran tersendiri di masing-masing organisasi tersebut. Sejak kelas X dan kelas XI diberikan kepercayaan untuk menjadi koordinator pengurus OSIS di angkatan 40, hingga saat kelas XI semester 2, dua tanggung jawab besar datang dan harus ku pegang. Ya, sebagai ketua OSIS, sekaligus pemangku adat di organisasi Pramuka. Siapa sangka, seorang siswi yang pada awalnya tidak berniat memegang sebuah jabatan organisasi lagi di sekolah, saat kelas X diterima sebagai pengurus dan anggota baru, lalu ketika akan beralih ke bangku kelas XI pernah berniat dan mengajukan pengunduran diri untuk off di organisasi, akhirnya berhasil menerima kepercayaan dan memikul perjuangan ini. Dipercaya oleh 573 orang, untuk memegang jabatan yang tidak bisa disepelekan (aka ketos), membuatku tersadarkan bahwa ternyata rencana dan  takdir tidak bisa di sinkron kan begitu saja.



    Menjadi salah satu orang yang memang pada dasarnya menjadi role model dari siswa-siswi SMAN 1 Cikalongwetan, membuatku harus berusaha memberikan yang terbaik untuk diriku dan mereka. Memegang tanggung jawab yang besar, menjadi seorang pemimpin, berani mengambil keputusan, resiko dan tindakan yang tepat, dituntut mampu berbicara dan berinteraksi dengan baik, menjadi penengah dalam penyelesaian masalah, merancang kegiatan dan aktivitas lainnya, harus aku lakukan semaksimal mungkin. Mengikuti berbagai kepanitiaan dan membujuk anggota yang pasif di organisasi sudah menjadi asupanku sebagai pemimpin. Jika aku katakan mudah, itu hanya di mulut dan ucapan semata saja. Namun, dikatakan sulit pun tidak terlalu. 

Tidak adil rasanya jika aku tidak menuliskan cerita luar biasa yang aku peroleh dari organisasi Pramuka. Seseorang yang sejak dulu malas mengikuti kegiatan alam, nyatanya mampu menjalankan rintangan di Pramuka dengan baik walaupun sedikit ngos-ngosan (😁😁). Kenapa aku bilang begitu? Karena pertama kalinya dalam hidup, dari organisasi Pramuka, aku bisa berbaring di tengah sawah. Dari Pramuka aku faham apa itu arti ‘penempuhan’ untuk sebuah kebaikan. Dari Pramuka, aku mampu menempuh tujuan dengan hanya bermodalkan tongkat dan perbincangan hangat bersama teman-teman seperjuangan. Kilas (Kian - Lara Santang), nama ambalannya. Bermalam di sekolah sudah bukan hal aneh. Bangun pukul 00.00, 02.00, dan tidak tidur seharian setelah berkegiatan telah aku alami dari serangkaian kegiatan ini. Menghabiskan waktu untuk menceritakan kesedihan, romansa, sejarah, petualangan, masa depan, bahkan hal-hal berbau mistis tidak absen kami bincangkan, meskipun rebahan di pinggir lapangan. Pergi ke wilayah yang menakutkan di beberapa titik dalam maupun luar sekolah, rasanya sebuah ‘ketakutan’ pun sudah tidak bisa menjadi sebuah alasan karena kami melalui dengan kebersamaan. Sungguh, pengalaman ini sangatlah mengesankan dan spesial dalam kehidupanku.



    Menjalani kebiasaan-kebiasaan baru di organisasi, membuatku lebih mudah beradaptasi dalam menghadapi berbagai permasalahan yang kompleks dalam kehidupan pribadi. Dari tanggung jawab tadi, menyesal pun tidak bisa aku ungkapkan, karena nyatanya semua itu sangatlah memberikan dampak positif untuk diri ini, mulai dari kebiasaan dan kepribadian. Melalui tanggung jawab itu, membawa ku bertemu dengan orang-orang hebat diluar sana, yang tidak hanya sebatas di lingkungan sekolah saja. Membuatku bisa berkunjung ke tempat-tempat bermakna yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan. Uraian kata dari aku rasanya tidak akan cukup, atas segala rasa syukur ku. Terlepas dari kurang maksimalnya aku berperan di sekolah ini, terimakasih akan selalu aku ucapkan kepada seluruh warga SMAN 1 Cikalongwetan, yang senantiasa memberikan aku kepercayaan, kesempatan, dukungan, kebersamaan dan hal-hal lainnya. Karena disini, aku benar-benar belajar bagaimana caranya menjadi orang yang dapat berbicara sebaik mungkin, memimpin/dipimpin, berpikir secara kritis, berkreativitas, berkolaborasi, merancang suatu hal, merealisasikan, dan melakukan kebaikan-kebaikan untuk lingkungan sekitar. 




    Masa ku berorganisasi di putih abu ini sudah berakhir. Bohong jika aku mengatakan tidak sedih dan mudah melepaskan masa ini. Tepat kemarin pada 19 Februari 2024, aku dan rekan aktivis di organisasi yang lain sudah menyerahkan jabatan kepada penerus dan orang-orang yang tentunya pasti berperan lebih baik dari kami. Selamat bertugas. Semangat dan sukses selalu. 

And ya. Masa putih abu pun sebentar lagi akan tutup buku. Kini, aku hanya tinggal menghitung waktu. Melepaskan yang lalu, dan menerima lalu menjalani yang baru pun mau tidak mau, aku harus mampu, karena pada dasarnya hidup ini penuh lika-liku (bukankah begitu?). Selamat tinggal P5, kelas peminatan, per LKPD-an, per OSIS -an, kepramukaan, jajanan warnep, dan ruangan VIP (ruangan tercintanya kelas XII H). 



    Khusus untuk Pak Nychken, terimakasih banyak telah hadir di kisah hidup Dini, di masa abu-abu ini. Senang sekali bisa mengenal bapak, dan memperoleh ilmu serta pengalaman belajar dan mengikuti kompetisi luar biasa melalui bapak. Semoga bapak dan keluarga sehat selalu, dan pastinya tidak bosan menginspirasi penerus S1CIKAL berikutnya ya bapakkk^^




Untuk bapak/ibu guru S1CIKAL yang mungkin membaca cerita ini, sekali lagi terimakasih karena telah memberikan Dini kesempatan untuk dapat berpartisipasi dan mengembangkan diri dalam kegiatan seperti kompetisi ataupun sejenisnya, yang mana pada saat itu Dini menjadi salah satu siswa yang terpilih, dari banyaknya siswa yang ada, untuk mewakili sekolah tercinta ini. Mohon dimaafkan, atas ketidakmaksimalan Dini dalam memperoleh hasilnya.

 

Dan untuk kamu, terimakasih karena telah mewarnai kisah romansa di masa putih abu ku dan pernah menjadi bagian dari kisah ku. 

 



   Terimakasih banyak SMAN 1 Cikalongwetan, karena telah memberikan aku ruang dan mempertemukanku dengan orang-orang yang berharga dalam kehidupanku.


Finally, cerita ini selesai juga. Tapi ini kepanjangan ga sih???

Padahal kan pas awalan di spill nya ga akan diuraikan satu persatu. Tapi ga kerasa, kalau menulis cerita seperti ini tuhhhh. Gapapa lah ya. Bukan masalah. Terurai, tapi tidak diuraikan semua (sebenernya mah). Intinya, semoga tidak ada kisah putih abu yang terlewat. Aamiin.

Mungkin kalau Pak Nychken tidak memberikan tugas menulis ‘pengalaman selama bersekolah di S1CIKAL’ di mata pelajaran Bahasa Indonesia, aku ga akan secepat ini menuangkan kisahku dalam sebuah tulisan. Meskipun ngumpulinnya agak, eh atau terlalu telat dan mepet deadline, semoga sedikit-kecilnya ada makna yang bisa diambil. (maafin dini ya Pak, ngumpulinnya agak telat hehee)


Well, terimakasih untuk kamu yang berkenan membaca cerita ini. Maafkan, jika banyak kalimat yang tidak enakeun dibaca maupun typo. Ambil positifnya, hiraukan dan buanglah yang negatifnya. 

Sampai jumpaa guysss(⁠。⁠♡⁠‿⁠♡⁠。⁠)



  • dari Dini Rahma Putriani yang tidak akan pernah melupakan sekolah ini.

.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Menjadi Alasan Untuk Mengenal Lebih Banyak Kata

  KERSA     Oleh : Keiza Deswina Azzahra   Jika kersa adalah judul, maka aku harus melanjutkan dengan   bait-bait berikutnya. Jika kersa adalah nama, maka aku harus menyebutkannya setiap ingin tidur. Jika kersa adalah lagu, maka aku harus menyanyikannya saat mandi.   Kersa tidak sering aku nyanyikan. Karena aku tidak sering mandi. Kersa tidak selalu aku sebutkan. Karena aku terlalu sering tidur tanpa disengaja. Kersa tidak akan aku lanjutkan. Karena aku tidak mahir merangkai bait   Terlalu banyak umpama untuk kersa yang sederhana   Kersa hanyalah kata. Kata yang diungkapkan oleh wanita. Wanita yang menerima kata. Dari aku yang menginginkannya.   Bandung, 1 Desember 2023

THE IMPACT OF BOTTLE RECYCLING

  By Rizka, Sulis, Dela, Robi, Salman, Haikal Waste is the remaining product or item that is no longer used. There are 3 ways or methods to manage waste namely reducing, reusing and recycling plastic here will discuss about recycling the plastic bottle waste, recycling plastic bottle is very beneficial and has many positive impacts. Although some students actively participate in this practice, there are still many students who  cannot or refuse to recycle plastic bottles. The following is the impacts of recycling of bottle waste for our life From our interviews and research, several positive and negative impacts of recycling plastic bottle waste have been identified, such as air pollution, where certain methods of recycling plastic bottles can harm air quality. Recycling bottle waste can impact the quality of the product itself. Poor and inadequate management during production stages can result in low-quality products. Recycling plastic bottle waste also leads to an increase in the qua