Langsung ke konten utama

Begini Rasanya Tiga Tahun di SMA

 Begini Rasanya Tiga Tahun di SMA

(Cikalong, 2025) — Hari-hari pertama aku memasuki jenjang SMA ternyata jauh dari

bayangan manis yang selama ini aku dengar. Pada hari pertama MPLS, aku merasa

seolah-olah dilempar ke dalam lingkungan yang terlalu besar, terlalu ramai, dan terlalu asing

bagi diriku yang belum siap. Dari rumah, satu-satunya hal yang aku bawa hanyalah rasa

takut—takut tidak memiliki teman, takut gagal beradaptasi, dan takut tidak mampu menyatu

dengan lingkungan baru yang belum aku kenal. Terlebih lagi, kegiatan pro-MPLS yang

berlangsung hingga sore membuat tubuhku, yang sebelumnya terbiasa pulang pukul dua belas

siang saat SMP, mengalami kejutan besar. Kelelahan yang aku rasakan bukan hanya fisik,

tetapi juga mental dan emosional, seakan energi sosialku terkuras tanpa jeda.

Di tengah situasi yang penuh tekanan itu, ada satu hal kecil yang memberikan rasa

aman: aku berada di kelas yang sama dengan seseorang yang pernah menjadi teman sekelas

saat SMP. Kehadirannya memberiku perasaan seolah menemukan “rumah kecil” di tengah

lingkungan yang asing, sehingga aku tidak perlu memulai seluruh proses adaptasi dari titik

nol. Tidak lama kemudian, aku mengalami sebuah momen yang masih aku ingat hingga

sekarang—momen pertemuan pertamaku dengan Gina, orang pertama yang mengajak aku

berkenalan. Ia sempat menghubungiku dan menanyakan apakah ia boleh ikut salat bersama,

sebuah ajakan sederhana yang membuat aku merasa diterima. Namun, ketika kembali dari

masjid, aku mendapati Gina duduk sambil menangis pelan karena merasa tidak memiliki

teman. Saat itulah aku menyadari bahwa ketakutan dan kegelisahan tidak hanya aku rasakan;

bahkan seseorang yang tampak percaya diri pun dapat sedang berjuang menemukan

tempatnya.

Kesan awal sekolah bagiku sangat kuat: lingkungan terasa luas, gersang, panas,

melelahkan, dan menakutkan—semuanya bercampur menjadi satu. Harapanku pada saat itu

pun sederhana, bukan untuk menjadi siswa berprestasi atau dikenal banyak orang, tetapi

hanya agar masa orientasi tersebut cepat berlalu. Aku ingin segera memasuki rutinitas

pembelajaran yang stabil, suasana kelas yang normal, dan aktivitas yang lebih teratur, karena

MPLS benar-benar menguras tenagaku dan membuat aku hanya ingin beristirahat.

Namun, meskipun periode itu penuh ketakutan dan ketidakpastian, aku tidak

menyadari bahwa justru dari pengalaman awal yang tidak nyaman itulah, berbagai hal indah

pada akhirnya mulai datang perlahan-lahan. Tetapi, kisah tentang perubahan itu hadir di bab

berikutnya.













Setelah melalui MPLS yang melelahkan dan menguras energi sosialku, hari pertama

memasuki kelas X menjadi awal baru yang terasa masih dipenuhi kecanggungan. Rasanya

seperti melangkah ke sebuah ruangan besar dengan banyak pintu, tetapi aku belum tahu mana

yang harus kubuka lebih dulu. Seragam putih abu yang kukenakan masih terasa terlalu baru,

seolah belum menyatu dengan diriku yang sedang berusaha menyesuaikan diri dan takut

mengambil langkah yang salah. Kelas baruku, X H, memiliki ruangan yang luas dan cukup

terang—tempat yang kelak menjadi ruang tumbuhku—namun pada hari-hari awal, semuanya

masih terasa berat. Tubuhku bahkan sempat drop saat masa adaptasi belum selesai; perubahan

ritme belajar, lingkungan baru, dan orang-orang baru datang bersamaan.

Setiap guru yang masuk memulai dengan perkenalan berulang-ulang, hingga pola

perkenalan itu melekat di kepalaku meski nama-nama teman kelasku belum mampu kuingat.

Dari seluruh kelas, hanya dua yang familiar bagiku: Ripa Nurcahya, yang baru kukenal sejak

MPLS, dan Talitha Ulima Yaskur, teman MI yang hadir kembali seperti “tempat pulang” di

tengah suasana yang masih asing. Karena duduk di barisan paling depan, aku hampir selalu

menjadi orang pertama yang ditunjuk menjawab pertanyaan atau maju ke depan kelas—peran

yang lama-kelamaan kubiasakan, meski awalnya membuatku gugup. Dari bangku itu pula

aku mengenal teman sebangkuku, Widya Aghisni Rosulina Ahmad, yang terkenal dengan

tulisan tangannya yang begitu rapi hingga aku sempat berpikir bahwa ia seperti “versi

berjalan dari font Times New Roman”.

Kelas XH juga memiliki keunikan tersendiri karena hanya kelasku yang diajar oleh

Ibu Tepi Losyana, S.Pd., untuk mata pelajaran Biologi, sosok guru yang kemudian menjadi

salah satu figur paling berkesan bagiku di tahun pertama. Namun, di balik proses belajar itu, ada satu kebiasaan yang sulit kuhindari: aku sering datang terlambat beberapa menit—07.05

atau 07.10—cukup untuk membuatku deg-degan setiap kali membuka gerbang sekolah.

Saat memasuki kegiatan-kegiatan sekolah, suasana sosialku mulai berubah. Pertama

kalinya aku mengikuti Semarak 17 Agustus yaitu cosplay, dan aku memilih cosplay sebagai

guru dengan baju coklat khas ASN. Meski lucu, momen itu justru menjadi titik awal aku

mulai lebih cair dengan teman-teman sekelas. Dari seseorang yang cenderung introvert dan

sulit berbaur, perlahan aku belajar tertawa dan merasa nyaman bersama mereka. Pada masa

itu, ada seseorang yang menjadi cukup berarti bagiku—someone special—yang membuat

fokus sosialku lebih sempit. Aku jarang bersosialisasi secara luas, lebih banyak berada di

lingkaran kecil, dan meski kini terasa lucu, saat itu aku merasa cukup nyaman.

Dalam proses pembelajaran, aku langsung menyukai mata pelajaran

Sikimbo—gabungan dari Fisika, Kimia, dan Biologi. Selain materinya yang menarik,

kelompok dalam proyek-proyek Sikimbo terasa sangat menyenangkan. Kami membuat

rangkaian listrik, menyaring air, dan mengerjakan berbagai proyek yang membuat suasana

kelas terasa hidup. Para gurunya pun tegas sekaligus menyenangkan. Di mata pelajaran

Bahasa Indonesia, ada tugas paling lucu sepanjang tahun: membuat analisis bergaya berita

dengan objek belalang. Guru yang memberi tugas tersebut adalah Pak Nychken Gilang Bedy.,

S.Pd., M.Pd., sosok yang materinya mudah kuingat karena keunikannya.

Meski begitu, tidak semua mata pelajaran terasa mudah. Geografi dan Sosiologi

adalah dua pelajaran yang rasanya tidak berjodoh denganku, sehingga aku lebih memilih

Informatika sebagai pelajaran favorit lainnya. Di antara semua guru, Bu Nia adalah sosok

yang paling membekas. Pernah suatu kali aku menangis karena perkataannya yang terasa

pedas, tetapi justru dari momen itu aku mulai menyukai kimia. Lucu rasanya memikirkan

bagaimana sebuah luka kecil dapat menjadi awal dari rasa suka yang baru.

Tahun itu juga menjadi pertama kalinya aku mengikuti intrakurikuler MPK, tempat

aku belajar menjadi panitia, berkomunikasi, bekerja sama, dan menghadapi hal-hal yang

sebelumnya tidak pernah aku alami. MPK membuka ruang baru dalam pengembanganku

sebagai seorang siswa. Ada pula momen indah ketika Perpisahan kelas 12 digelar dengan

sangat meriah, seperti sebuah konser. Dari acara tersebut, aku mengenal kepala sekolah yang

sangat humble, Bapak Drs. H. Soehendiananur, M.M.Pd.. Bahkan sebelumnya, beliau pernah

masuk ke kelasku dan menanyakan apa yang ingin kami ubah di sekolah. Aku menjawab

tentang taman sekolah yang butuh diperbaiki, dan tidak kusangka jawaban itu benar-benar

diwujudkan. Aku sampai terkejut ketika mengetahui bahwa namaku disebut dalam rapat

besar bersama orang tua siswa—pengalaman yang tidak pernah aku bayangkan pada tahun

yang sebelumnya penuh ketakutan.

Kelas X adalah permulaan yang sulit, tetapi tanpa kusadari, justru di dalam kesulitan

itulah aku dibentuk. Di balik rasa lelah, keterlambatan, kegugupan, dan proses adaptasi yang

berat, banyak hal kecil dan besar yang perlahan memperbaiki diriku dari dalam. Sebuah awal

yang kikuk, canggung, dan melelahkan—tetapi pada akhirnya menjadi awal yang benar-benar

berarti.

 








Memasuki kelas XI, aku merasakan seolah membuka bab baru dalam perjalanan

pendidikanku, meski jejak-jejak pengalaman dari kelas X masih terasa kuat menyertainya.

Namun, awal masa kelas XI tidak berjalan semulus harapanku. Proses adaptasi terhadap ritme

pembelajaran yang semakin intens, tuntutan akademik yang meningkat, serta penyesuaian

terhadap lingkungan belajar yang semakin dinamis membuat kondisiku sempat menurun.

Beberapa kali aku sakit dan merasa kewalahan, tetapi tetap memaksakan diri hadir di sekolah

karena khawatir akan tertinggal materi. Meskipun tubuhku sering tidak berada dalam kondisi

terbaik, ada dorongan kuat dalam diri untuk terus mengikuti pembelajaran, seakan-akan satu

hari absen saja akan membuatku kehilangan banyak hal penting.

Pada tahun itu pula, aku mulai terlibat dalam berbagai kegiatan yang memberikan

pengalaman berharga meskipun cukup menguras energi, seperti MPK dan OSN. Kegiatan

MPK pada kelas XI terasa lebih padat dibanding tahun sebelumnya. Ada banyak agenda,

aturan, serta dinamika kelompok yang harus kuhadapi. Tidak jarang aku mengikuti kegiatan

dalam keadaan kurang sehat, tetapi proses tersebut justru melatih kedisiplinan, ketahanan

mental, dan kemampuan manajemen waktu. Walaupun melelahkan dan penuh tekanan,

pengalaman di MPK membentuk karakter dan keteguhan sikap yang sebelumnya tidak

kusadari ada dalam diriku.

Pada saat yang sama, persiapan Olimpiade Sains Nasional (OSN) menjadi tantangan

tersendiri. Materi yang kompleks, jadwal bimbingan yang ketat, serta tuntutan untuk tetap

konsisten membuatku sering merasa jenuh dan kelelahan. Ada hari-hari di mana aku belajar

sambil menahan sakit kepala atau kelelahan fisik, tetapi tetap berusaha menjalani semuanya dengan maksimal. Terlepas dari hasil akhirnya, pengalaman mengikuti OSN memberikan

pelajaran penting tentang ketekunan, disiplin, serta nilai sebuah proses pembelajaran.

Di tengah kesibukan itu, aku juga mengerjakan tugas Bahasa Indonesia yang

diberikan oleh guru yang dikenal berwawasan luas dan memiliki metode mengajar yang khas.

Tugas musikalisasi puisi yang awalnya kupikir sederhana, ternyata berkembang menjadi

proyek kreatif yang jauh lebih besar. Bersama partner-ku, Puja Setia Hasani, kami tidak

hanya membuat puisi dan membacakannya, tetapi juga mengubahnya menjadi lagu lengkap

dengan instrumen, pengambilan gambar yang terkonsep, serta pengeditan video seperti karya

musik mini. Proses ini memberikan pengalaman kolaboratif yang menyenangkan sekaligus

melelahkan, dan hasil akhirnya membuat kami bangga karena terasa seperti karya yang

benar-benar kami bangun dari awal.

Keseruan kelas XI juga ditandai oleh tradisi tidak resmi yang menjadi ciri khas kelas

kami: ngeliwet hampir setiap minggu. Meskipun tugas menumpuk atau cuaca tidak

mendukung, kegiatan ini tetap dilakukan dan seakan menjadi ritual yang mempererat

hubungan antar siswa. Rumah Septi—yang akrab kami panggil Asep—menjadi pusat

kegiatan tersebut, hingga terasa seperti saksi rutin kebersamaan kami. Tradisi ini bahkan

dibawa ke kompetisi sekolah Artdivial, di mana kelas kami mengikuti lomba ngeliwet dan

meraih Juara Harapan 3. Walaupun pencapaiannya bukan yang tertinggi, bagi kami

kebersamaan dan proses yang mengiringinya justru menjadi nilai yang paling berkesan.

Masuk kelas 12 itu rasanya aneh. Di satu sisi aku masih bareng teman-teman yang

sama sejak kelas 10—tetap di Xhenon, tetap duduk bareng partner sejati aku, Widia Aghisni

Rosulina Ahmad, tetap ketawa-ketawa pakai bahasa dalam kelas yang cuma kita yang ngerti.

Tapi di sisi lain, ada perasaan yang bilang, “Wah… ini akhir. Ini tahun terakhir.” Dan entah

kenapa, perasaan itu nempel di setiap momen sepanjang kelas 12.

Salah satu hal yang paling berkesan pastinya Semarak, event Agustusan di SMAN 1

Cikalongwetan yang tiap tahun selalu meriah. Tapi tahun ini rasanya beda—lebih hidup, lebih

heboh, dan entah bagaimana lebih ngena. Kelas kita kompaknya parah. Kita bikin kostum

cosplay berhari-hari di rumah aku, lembur sampai tengah malam dengan mata udah hampir

merem, tapi tetap ketawa dan tetap bahagia. Aneh, capeknya nggak kerasa kayak capek

biasa—rasanya justru nyenengin.

Pas hari H, kita ikut banyak banget lomba. Bahkan sampai sore banget kita masih stay

di sekolah cuma buat ngesupport teman-teman kelas. Aku sendiri ikut lomba masukin paku ke

botol dan menggiring bola pakai pipa, yang jujur jauh lebih susah daripada kelihatannya.

Tapi ya begitulah kelas 12: berat, tapi selalu ada momen yang bikin ketawa dan lupa sama

stres.

Ada juga momen ujian praktik sidang PKN yang sampai sekarang kalau aku ingat

bikin ngakak sendiri. Waktu itu aku jadi hakim ketua, lengkap dengan toga sidangku.

Awalnya suasana super serius, semua baca naskah dengan formal, tapi tiba-tiba ada satu saksi

yang malah bikin satu ruangan meledak ketawa. Bahkan Ibu Teti, S.Pd, guru PKN kami,

ikutan ngakak. Rasanya kayak sidang beneran, cuma versi random dan jauh lebih seru.

Lalu mulai masuk ke fase “roller coaster” khas kelas 12: TKA, KTI, dan PSAS. TKA

sudah lewat, meski jungkir baliknya masih terasa kalau diingat. Sekarang kita lagi bergelut

dengan KTI—revisi, konsultasi, ngetik ulang, presentasi, revisi lagi, dan siklus itu terus muter. Dan di depan, ada PSAS yang namanya aja sudah cukup bikin deg-degan. Tapi

semuanya tetap harus dijalanin.

Justru mungkin karena semuanya berat, kelas 12 terasa semakin berarti. Kita makin

dekat, makin kompak, makin sadar kalau waktu yang kita punya ini nggak akan terulang.

Pelan-pelan, tanpa sadar, kita sudah sampai di penghujung perjalanan—tahun penuh tawa,

stres, kerja bareng, nangis bareng, begadang bareng, dan rasa “nggak siap berpisah”.

Kalau aku melihat ke belakang, rasanya aneh juga… bagaimana hal-hal yang dulu

terasa kecil, sepele, atau bahkan menyebalkan, tiba-tiba berubah menjadi kenangan yang

paling susah dilepaskan. Dari hari pertama MPLS yang penuh takut dan canggung, ke kelas

10 yang masih asing tapi perlahan mulai hangat. Lalu kelas 11 yang penuh tawa, liwetan tiap

minggu, dan musikalisasi puisi yang sampai sekarang masih bisa bikin aku senyum kalau

teringat. Sampai akhirnya kelas 12—tahun yang isinya campur aduk: sibuk, heboh, berat, tapi

juga sangat penuh cinta.

Perjalanan tiga tahun ini ternyata bukan cuma tentang pelajaran, nilai, atau tugas. Ini

tentang orang-orang yang berjalan bersamaku. Tentang teman-teman Xhenon yang setiap hari

aku lihat, tertawa bareng hal random, saling cerita, dan tumbuh bersama. Tentang guru-guru

yang membimbing dengan sabar, termasuk Bapak Nychken Gilang Bedy, S.Pd., M.Pd., yang

memberi tugas penulisan ini—yang tanpa beliau mungkin kenangan-kenangan ini nggak akan

pernah benar-benar tertulis.

Dan tentu saja tentang SMAN 1 Cikalongwetan. Tempat yang sebentar lagi akan

kutinggalkan, tapi jejaknya akan terus ikut ke mana pun aku pergi. Tempat yang membuat aku tumbuh, jatuh, bangkit lagi, mencoba hal-hal baru, dan sedikit demi sedikit menemukan

siapa diriku.

Sekarang, ketika perjalanan ini mulai mendekati ujungnya, aku sadar bahwa semua

hal yang pernah terjadi—yang lucu, memalukan, melelahkan, menyakitkan, maupun

membahagiakan—semuanya penting. Semuanya punya tempatnya sendiri. Dan semuanya

akan aku bawa pulang sebagai bagian dari diriku.

Mungkin nanti setelah lulus kita akan berjalan di jalan masing-masing, sibuk dengan

masa depan yang berbeda. Tapi aku percaya, kenangan tentang tiga tahun ini akan tetap hidup

di dalam hati orang-orang yang pernah merasakan hangatnya kebersamaan itu.

Jadi…

terima kasih untuk semua yang sudah menjadi bagian dari cerita ini.

Terima kasih untuk tawa, untuk air mata, untuk perjuangan, dan untuk semua hal kecil

yang diam-diam membentuk perjalanan besar ini.

Dan yang paling penting, terima kasih kepada diriku sendiri—karena sudah bertahan,

sudah mencoba, sudah tumbuh, dan sudah sampai sejauh ini.

Perjalanan ini mungkin selesai.

Tapi ceritanya… tidak akan pernah benar-benar berakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE IMPACT OF BOTTLE RECYCLING

  By Rizka, Sulis, Dela, Robi, Salman, Haikal Waste is the remaining product or item that is no longer used. There are 3 ways or methods to manage waste namely reducing, reusing and recycling plastic here will discuss about recycling the plastic bottle waste, recycling plastic bottle is very beneficial and has many positive impacts. Although some students actively participate in this practice, there are still many students who  cannot or refuse to recycle plastic bottles. The following is the impacts of recycling of bottle waste for our life From our interviews and research, several positive and negative impacts of recycling plastic bottle waste have been identified, such as air pollution, where certain methods of recycling plastic bottles can harm air quality. Recycling bottle waste can impact the quality of the product itself. Poor and inadequate management during production stages can result in low-quality products. Recycling plastic bottle waste also leads to an increase i...

Story at School

 Rika Dimas Fitria  XII.i B.Indonesia Story at School Kelas X  Pada suatu hari,,saya telah lulus MTs sampai orang tua meneruskan saya ke Sekolah SMAN 1 Cikalongwetan ini,lalu saya daftar ke SMAN 1 Cikalongwetan bersama kakak dari pagi sampai jelang malam,sampai menunggu pengumuman diterima atau tidaknya,sampailah Alhamdulillah saya diterima disekolah ini.Lalu salah satu teman sosmed menghubungi saya bahwa kita sekelas,dia bernama Shifa Sulastri.karena sekolah ini pada era covid kita sekolah dibagi sesi pertama dan kedua lalu saya sesi dua sampai bertemu pada pertemuan sekolah saya bertemu dengan Shifa langsung,tidak hanya Shifa bahwa saya juga sekelas dengan temen SD saya yaitu Siti Sopiah,sampai pada hari-hari berikutnya saya berkenalan dengan teman yang lainnya seperti N.Sani,Suci dan yang lainnya.Lalu wali kelas X kita adalah ibu Amila sholihah lalu saya mengerjakan tugas sebagian BDR dan diadakannya projek Pertama yang berjudul KTI (karya tulis Imiyah) dan disatukan k...

CERITA YANG TIDAK AKAN BERAKHIR

Saskia Agustin Masa corona akhirnya berakhir, semua yang berada di rumah akhirnya kembali menjalani kehidupan seperti semula walaupun masih identik dengan pemakaian masker yang wajib dipakai apabila akan keluar rumah. Seperti halnya denganku, saskia. Mulai kembali menjadi siswi yang berangkat pagi untuk ke sekolah, yang juga seperti itu. Pembelajaran di sekolah masih belum efektif ternyata, jadi para guru memberikan alternatif agar bisa melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah dengan menerapkan sistem yang dikelas para murid dibagi 2 atau dengan sebutan sesi a dan b.  Belum begitu banyak mengenal siapa saja yang ada di kelas hanya satu, siti. Unik memang ketika Aku menyangka kalau Siti itu orangnya memiliki badan yang tinggi hahah. Alurnya singkat sampai tanpa tidak sadar kalau kita sudah begitu dekat tapi bukan hanya siti ada satu orang lagi yang sampai sekarang dekat denganku dia Rahma, orang ketika mendengar namanya pasti akan langsung bilang " anu pinter tea", asli mema...