CATATAN AKHIR SEKOLAH
Hallo perkenalkan nama aku Neng Fatmah Dari kelas XII-H, ini cerita aku yang awal masuk ke SMAN 1 CIKALONG WETAN di tahun 2023. Dari Seragam Baru ke Dunia yang Tidak Terbayangkan Semua bermula dari satu pagi yang sederhana. Aku berdiri di depan cermin, mengenakan seragam SMA untuk pertama kalinya. Baju kemeja putih yang masih licin karena baru disetrika, rok yang warnanya masih sangat pekat, sepatu yang hitamnya belum ternodai debu sama sekali. Rasanya seperti aku sedang memainkan peran baru dalam hidupku peran yang belum aku pahami, tapi aku tahu akan menjadi penting.
Saat memasuki halaman sekolah, ratusan siswa baru berdiri berbaris. Riuh suara suara kakak OSIS yang penuh energi, dan suara langkah sepatu yang terus datang dari segala penjuru membuat suasana terasa seperti pesta besar yang dipenuhi rasa gugup.
Awal MPLS Canggung Tapi Penuh Harapan, MPLS dimulai dengan perkenalan yang panjang dan terkadang membosankan, tapi dari sanalah semuanya bermula. Kami disatukan dengan kelompok-kelompok kecil. Wajah-wajah asing yang awalnya cuma saling menatap tanpa bicara, lama-lama berubah jadi teman pertama di SMA.
Ada yang gugup ketika diminta me bumperkenalkan diri, ada yang kaku waktu ikut yel-yel, tapi semuanya justru membuat suasananya menjadi lucu. Panas terik matahari membuat kami berkeringat, tapi di balik itu, ada rasa bangga karena hari itu kami resmi menjadi siswa SMA.
Di hari pertama aku MPLS dan di tempatkan di ruang 12 yaitu ruang terakhir, awalnya aku sangat gugup dan malu karena di kelas itu tidak ada yang kenal sama sekali, dan disitulah aku mulai beradaptasi untuk mencari teman dan pada akhirnya ada yang mengajak berkenalan, disitu aku sangat senang sekali karena mulai ada teman untuk di ajak ngobrol. Itulah teman pertama aku waktu di ruang 12.
MPLS juga mengajarkan hal-hal kecil tapi penting bagaimana membangun kebiasaan baru, menghormati guru, memahami aturan, dan mengenal lingkungan sekolah. Dan tanpa disadari, dari situlah seluruh cerita panjang ini dimulai.
Beberapa minggu setelah MPLS berlalu, suasana mulai berubah. Ruang kelas yang awalnya terasa asing perlahan menjadi tempat yang nyaman. Posisi duduk yang dulu dipilih secara acak, sekarang menjadi tempat favorit yang penuh kenangan.
Tanpa disadari, dari sekadar duduk bersebelahan atau pulang bersama sepulang sekolah, tumbuhlah persahabatan yang sama sekali tidak direncanakan. Dari saling meminjam pulpen hingga saling berbagi cerita dan keluh kesah, semuanya terjalin perlahan namun pasti.
Setelah MPLS berakhir, kemudian kelasnya di rolling lagi dan aku masuk ke kelas H yaitu 10-H, dan disitulah awal bertemu dengan teman teman, dan mulailah kehidupan yang sebenarnya duduk di bangku kelas 10. Hari-hari pertama terasa seperti lembaran baru yang masih kosong, siap diisi apa pun dan Belajar Menyesuaikan Diri.
Awal masuk kelas 10 adalah masa adaptasi. Belajar mengenal teman sebangku, mencoba bersikap sopan kepada guru baru, mencari tempat duduk yang strategis, dan berusaha terbiasa dengan pelajaran yang lebih sulit. Suasana kelas masih kaku, tapi setiap hari, sekat itu perlahan runtuh.
Obrolan kecil mulai terdengar, mulai dari saling meminjam pulpen, bertanya PR, sampai sekadar komentar lucu tentang kejadian di kelas. Dari satu candaan kecil, lahirlah pertemanan besar.
Projek Pertama Melelahkan Tapi Mengubah Banyak Hal
Ketika projek pertama datang, panik itu pasti ada. Banyak dari kami belum terbiasa mengerjakan tugas yang butuh kreativitas tinggi atau kerja kelompok. Tapi dari projek-projek inilah kami belajar banyak hal komunikasi, pembagian tugas, tanggung jawab, dan menerima perbedaan pendapat. Seringkali projek dilakukan sambil tertawa. ada yang telat menyelesaikan bagian tugasnya, tapi semuanya te kooltap berakhir dengan tawa dan perasaan puas saat presentasi.
Projek pertama kami adalah membuat kerajinan dari barang bekas. Awalnya terdengar sederhana, namun ternyata membutuhkan usaha dan kreativitas yang cukup besar. Kami mulai mengumpulkan berbagai bahan seperti botol plastik, kardus, kaleng, tutup botol, hingga kertas bekas. Ruang kelas yang biasanya rapi mendadak berubah seperti ruang kerja kreatif penuh dengan gunting, lem tembak, serpihan plastik, dan suara diskusi yang saling bersahutan.
Ada kelompok yang membuat tempat pensil dari botol bekas, ada yang membuat hiasan bunga, dan ada pula yang mencoba membuat tas jinjing dari kardus bekas dan karton bekas, dan masih banyak lagi kerajinan-kerajinan yang kami buat. Beberapa karya berjalan lancar, beberapa lainnya penuh drama karena bentuknya atau karyanya tidak sesuai rencana.
Meski hasilnya beragam, projek ini membuat kami semakin kompak. Kami belajar saling membantu, tertawa bersama saat ada kesalahan kecil, dan merasa bangga atas hasil yang kami ciptakan sendiri. Dari projek inilah kami memahami bahwa kreativitas tumbuh dari proses, bukan sekadar hasil akhir.
(Dokumentasi membuat kerajinan dari barang bekas)
Projek kedua jauh lebih unik dan menantang praktik pernikahan dalam pembelajaran. Begitu guru menjelaskan tugas ini, satu kelas langsung riuh. Ada yang tertawa karena tidak percaya, ada yang malu-malu, dan ada pula yang langsung panik membayangkan perannya.
Pembagian peran menjadi bagian yang paling seru. Ada yang berharap mendapatkan pasangan kelompok tertentu, ada yang justru gugup karena takut dipasangkan dengan teman yang jarang ia ajak bicara. Namun akhirnya semua menerima perannya masing-masing dengan hati terbuka.
Persiapannya pun tidak kalah menarik. Kami berdiskusi mengenai konsep acara, dekorasi sederhana, hingga pembagian tugas dalam simulasi prosesi pernikahan. Ada kelompok yang sangat serius mempersiapkan perannya, sementara yang lain tidak henti-hentinya tertawa saat latihan ijab kabul karena sering salah mengucapkan kalimat.
Pada hari presentasi, kelas berubah menjadi “pelaminan sederhana.” Para “pengantin” tampil dengan berbagai ekspresi ada yang malu-malu, ada yang terlalu percaya diri, dan ada yang berusaha keras menahan tawa. Suasana kelas penuh keceriaan, sampai-sampai guru pun ikut tertawa melihat tingkah kami.
Melalui projek ini, kami bukan hanya belajar tentang tata cara pernikahan, tetapi juga mempelajari keberanian, kerja sama, serta kemampuan menjalankan peran dengan kesungguhan meski suasananya penuh candaan.
Ketika bulan Agustus tiba, suasana sekolah berubah menjadi lebih hidup dan penuh warna. Lapangan dipenuhi berbagai perlengkapan lomba, spanduk merah putih dipasang di mana-mana, dan semangat para siswa mulai terasa membara. Perayaan 17 Agustus memang selalu menjadi momen yang paling meriah setiap tahunnya.
Tarik tambang menjadi salah satu lomba yang paling ditunggu. Tangan kami sering kali memerah dan terasa perih, namun tawa dan semangat kelompok membuat rasa sakit itu tidak lagi terasa penting. Balap karung pun tidak kalah seru banyak yang terjatuh, terguling, bahkan menabrak teman kelompok sebelah, namun justru itulah yang membuat suasananya semakin meriah.
Selain berbagai lomba besar itu, ada pula permainan kecil yang menambah keceriaan. Lomba makan kerupuk yang membuat kami mendongak tinggi sambil berusaha menggigit kerupuk yang terus bergoyang, lomba estafet air yang sering kali berakhir dengan baju basah.
Di sela-sela perlombaan, kami berkumpul di pinggir lapangan sambil berbagi minuman dingin dan cerita. Ada yang sibuk mengecek skor, ada yang masih membahas strategi lomba berikutnya, dan ada juga yang hanya menikmati suasana sambil tertawa melihat kejadian-kejadian lucu yang barusan terjadi.
Pada akhir acara, meski tubuh terasa lelah dan suara sudah hampir habis, hati kami selalu penuh. Perayaan 17-an tidak hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang kebersamaan, kekompakan, dan tawa yang tercipta dari momen-momen sederhana.
Dan setiap tahun, ketika Agustus kembali datang, kami selalu menunggu saat-saat penuh kemeriahan itu karena di sanalah salah satu kenangan terbaik masa SMA tercipta.

Nah ini acara yang paling di tunggu-tunggu yaitu Porak, PORAK selalu menjadi hari yang tidak pernah sepi cerita. Kami mulai mempersiapkan segala hal bersama, Suasana kelas yang biasanya tenang berubah menjadi ruang penuh energi. Semua sibuk dengan tugas masing-masing ada yang sibuk memikirkan bagaimana cara memastikan kelas kami bisa meraih juara perlombaan. Meskipun kadang ribut atau tidak sepakat, selalu berakhir dengan tawa.
Saat hari acara tiba, sekolah benar-benar berubah menjadi arena olahraga yang besar dan meriah. Lapangan dipenuhi suara teriakan semangat dari setiap kelas. Bendera, dan warna-warna kelas menghiasi seluruh area sekolah. Kami berlari, melompat, bersorak, dan tertawa tanpa henti.
Walaupun tubuh lelah, panas terik menyengat kulit, dan napas terasa hampir habis, tidak ada satu pun yang ingin berhenti. PORAK bukan hanya soal lomba, tetapi soal kebersamaan. Kami saling menyemangati, saling menghibur, dan saling memotivasi seperti keluarga kecil yang solid.
Saat kelas kami menang di satu perlombaan, sorakan pecah seperti tidak ada besok. Saat kalah, kami tetap tertawa sambil bilang, “Yang penting seru!” Tidak peduli hasil akhirnya yang terpenting adalah kebersamaan dan momen-momen yang tak bisa diulang.
PORAK menjadi salah satu kenangan paling berkesan di masa SMA. Bahkan ketika hari itu berakhir, suasananya tetap melekat di hati kami.
Dokumentasi penutupan porak
(Juara membuat poster digital)
Saat tahun ajaran berakhir, perasaan mulai campur aduk. Senang karena naik ke kelas 11, tetapi sedih karena tahu semuanya tidak akan sama lagi. Naik ke kelas 11 adalah momen transisi besar. Level pelajarannya meningkat, tanggung jawab bertambah, dan tantangannya terasa lebih berat. Namun justru di titik inilah banyak hal berharga mulai bermunculan dalam perjalanan kami di SMA. Kelas 11 bukan hanya tentang belajar lebih serius, tapi juga tentang menemukan diri sendiri, memperluas lingkungan pertemanan, dan membangun kenangan yang jauh lebih dalam.
Nah di kelas 11 itu ada peminatan yang menjadi tantangan untuk kelas 11 dan 12, Peminatan menjadi pengalaman baru yang cukup unik. Kita harus berpindah kelas setiap dua hari dalam seminggu, bertemu teman-teman dari kelas lain, dan beradaptasi dengan suasana baru. Awalnya ada rasa canggung, dan malu-malu seperti deja-vu dari hari pertama masuk kelas 10. Tetapi untung saja saya sekelas lagi sama temen kelas, jadi ada teman tidak merasa sendiri.
Di ruang peminatan, suasananya sangat berbeda. Pelajaran jadi lebih fokus, guru-gurunya mengajar lebih mendalam, dan materi yang diberikan benar-benar terasa seperti bekal untuk masa depan. Kami mulai terbiasa diskusi serius, presentasi panjang, dan latihan soal yang membuat otak bekerja ekstra.
Kelas 11 adalah masa yang seimbang antara tekanan dan kebahagian, hari ini stres tugas menumpuk, besoknya tertawa sampai tidak kuat berdiri karena hal-hal remeh. Tugas semakin banyak dari tugas kelompok hingga tugas individu, sampai presentasi kelompok yang menguras pikiran. Kadang saya sampai harus pulang sore atau begadang dengan mata hampir menutup sendiri. Ada tugas mendadak, ulangan harian yang muncul tiba-tiba, dan materi yang terasa lebih berat dari biasanya.
Meski jadwal berat, kelas 11 justru penuh hal-hal yang membuat hari kami semakin hidup seperti, guru tidak masuk dan kelas langsung heboh, jam kosong jadi ajang foto-foto tanpa konsep, dan curhat sama temen sampai lupa waktu. Hal-hal kecil seperti ini yang justru yang menjadi kenangan.
Di kelas 11 juga banyak event-event yang sangat seru, Salah satu alasan kenapa kelas 11 terasa spesial adalah banyak sekali event yang membuat sekolah jadi semakin berwarna. Seperti Classmeeting Sekolah mendadak berubah jadi arena kompetisi. Semangat kelas memuncak, semua berlomba-lomba memberi dukungan. Ada yang teriak sampai serak, ada yang kelelahan tapi tetap tertawa, ada juga yang cuma jadi fotografer dadakan. Ada Hari Guru, Ini salah satu event paling hangat. Kami sibuk menyiapkan kejutan, membuat bunga, Waktu memberikan hadiah, suasana berubah haru sekaligus penuh tawa. Dan ada kolaborasi seni dan Sunda yang sangat seru, Acara ini seperti festival nyanyi seni yang berbahasa Sunda seperti pupuh. Event-event inilah yang membuat kelas 11 terasa seperti perjalanan panjang yang sangat hidup.

(Dokumentasi setelah tampil nyanyi kreasi seni musik lagu pupuh sunda)
(Dokumentasi nonton porak)
Dan di kelas 11 ada juga mapel kolaborasi Sejarah dan Pai yang mengharuskan kita untuk praktek nikah, kami mulai pusing untuk menentukan siapa yang menjadi pengantin wanita dan pengantin pria, dan kami juga bekerja kelompok selalu sampai sore karena banyak membuat properti untuk pernikahan dan latihan untuk prosesi kelangsungan pernikahan agar kita tahu perjalanan acaranya. Dan disitu kami punya perannya masing-masing ada yang menjadi orang tua dari mempelai wanita, dan sebaliknya ada yang menjadi orang tua dari mempelai pria, ada yang menjadi saksi, ada yang menjadi MC, ada yang menjadi
orang yang menikahkan nya, dan ada yang menjadi pengiring serahan.

(Dokumentasi setelah praktek pernikahan)
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah projek kearifan lokal. Kami harus menampilkan tarian daerah lengkap dengan kostum, properti, dan formasi. ada yang salah gerakan, ada yang terlalu cepat, ada yang telat mengikuti musik, bahkan ada yang tidak bisa berhenti tertawa setiap kali salah langkah. Namun lama-kelamaan, semua mulai terbiasa. Saat tampil, semuanya terbayar. Deg-degan berubah jadi bangga. Musik mengalun, gerakan mengalir lebih kompak, dan tepuk tangan setelah penampilan membuat rasa lelah hilang seketika.

(Dokumentasi projek kearifan lokal)
Dan ada projek yang ke dua di kelas 11 yaitu kampanye akbar, dalam projek ini kelas kami di bagi beberapa kelompok yang mengharuskan kita untuk memilih calon dari setiap kelompok untuk menjadi perwakilan calon presiden, dan yang terpilih menjadi presiden akan ke kelas lain untuk menyampaikan visi dan misi nya, projek ini sangat seru sekali karena kita bisa kampanye ke kelas lain, dan kita juga bisa menonton kampanye dari kelas lain karena ada yang kampanye nya ke kelas kita.

(Dokumentasi projek kampanye akbar)
Kelas 11 mengajarkan pada kami bahwa tumbuh dewasa bukan berarti kehilangan kesenangan. Justru di sinilah kami belajar, menghargai proses, mengatur waktu, memahami tanggung jawab, menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana, dan merasakan indahnya kebersamaan.
Aku belajar bahwa kebersamaan tidak selalu harus ramai. Tapi hanya duduk berdampingan sambil diam saja sudah terasa sangat berarti. Kelas 11 adalah masa ketika kami belajar memahami diri sendiri mengetahui batas, mencari kekuatan, dan mulai melihat masa depan dengan lebih jelas. Dan di balik semua tugas, ujian, projek, serta rasa lelah, kelas 11 tetap menjadi salah satu fase paling indah dan paling hidup dalam perjalanan SMA.
Dokumentasi kelas 11
Kelas 12 datang begitu cepat, seolah waktu berlari tanpa izin. Rasanya baru kemarin aku masuk sebagai anak kelas 10 yang masih bingung, canggung, dan sibuk mencari teman duduk. Tiga tahun berjalan tanpa terasa, dan kini aku berdiri di tahun yang paling menentukan. Tahun yang membuat aku mulai menyadari bahwa semuanya perlahan akan berubah.
Sejak hari pertama masuk kelas 12, aku sudah bisa merasakan suasananya berbeda. Jadwal lebih padat, pelajaran terasa semakin berat, dan guru pun mulai sering mengingatkan tentang kelulusan. Tidak ada lagi waktu untuk terlalu santai semuanya mulai terasa nyata. Setiap tugas yang datang seolah membawa pesan bahwa aku sudah semakin dekat dengan masa depan.
Di sinilah KTI mulai berjalan. Karya Tulis Ilmiah menjadi babak pertama yang benar-benar menguras tenaga. Ada hari ketika aku merasa bangga karena berhasil menyelesaikan satu bab, tetapi di hari berikutnya aku kembali merasa putus asa karena harus merevisi semuanya. Sangat melelahkan tapi harus tetap semangat.
Belum selesai dengan KTI, TKA datang seperti tantangan kedua. Soal yang tidak masuk akal membuat pusing, dan waktu yang berjalan begitu membuat kepala serasa mau pecah. Tetapi dari semua kesulitan itu lahir cerita-cerita lucu belajar sampai malam, hingga panik saat simulasi dimulai. TKA yang awalnya terasa menakutkan, lama-lama menjadi sesuatu yang justru mendekatkan aku. Ada teman yang selalu memberi semangat, yang saling berbagi catatan, dan yang mencoba menjelaskan soal sambil pusing sendiri.

(Dokumentasi setelah TKA)
Dan ada peminatan di kelas 12 bukan lagi sekadar memilih jurusan, tapi memilih arah hidup. Materinya semakin mendalam, dan aku mulai merasa benar-benar diuji. Walaupun semuanya terasa berat, kelas 12 selalu menemukan cara untuk menciptakan kebahagiaan kecil. Jam kosong yang tiba-tiba muncul berubah menjadi sesi foto dadakan. Belajar kelompok yang awalnya serius, ujung-ujungnya penuh tawa. Kadang aku hanya duduk bersama di kelas, bercerita tentang masa depan sambil berharap waktu bisa berjalan sedikit lebih lambat. Makan bareng, bercanda receh sebelum pelajaran dimulai, dan tertawa bersama karena hal yang tidak penting semuanya sederhana, tetapi entah bagaimana terasa sangat berharga.
Tanpa disadari, kebersamaan itu menjadi hal yang paling aku jaga. Setiap minggu terasa lebih cepat, setiap hari terasa lebih singkat. Aku mulai menghitung waktu, bukan untuk menunggu libur, tetapi untuk menyadari betapa sedikitnya momen yang tersisa sebelum semuanya berubah. Ada hari ketika kelas tiba-tiba hening, bukan karena dimarahi guru, tetapi karena aku mulai sadar bahwa waktu bersama sudah tidak banyak lagi.
Di kelas 12 juga banyak event yang seru seperti di kelas 10 dan 11,ketika event itu datang aku sangat senang karena terlepas dari pelajaran pelajaran di kelas yang sangat pusing, jadi event itu yang sangat di tunggu tunggu tiap tahun nya.
Di kesempatan event di kelas 12 yaitu 17 Agustus, karnaval di keelas aku mengambil tema melamar kerja jadi memakai baju hitam putih, tetapi ada juga yang menjadi tentara, dan salah satu teman aku cosplay menjadi hantu-hantuan, ketika kita mengelilingi lingkungan sekitar sekolah sanggatlah seru apalagi ada salah satu teman yang cosplay.


(Dokumentasi karnaval 17 Agustus)
Di kelas 12 ini juga ada mapel PKN yang mengharuskan kita untuk praktek sidang, di situlah kami mulai pusing dan heboh di kelas karena menentukan siapa yang menjadi Hakim, Jaksa, panitra, saksi, hingga pelaku dan korban untuk kelangsungan kita praktek. Disitulah terjadi momen yang sangat berkesan ada serunya dan ada lucunya juga. Karena kita berperan seperti sidang yang sesungguhnya. Kita juga sibuk latihan agar praktek nya berjalan dengan lancar dan sesuai harapan yang di inginkan.

(Dokumentasi setelah sidang)
Terakhir ada kegiatan masak yang ditugaskan oleh mapel pkwu, yaitu memasak makanan khas daerah, kelas kita dibagi beberapa kelompok yang tiap kelompoknya berbeda beda menu makanan, ada yang masak sate ayam, cilok, tahu gejrot, dan masih banyak lagi menu lainnya, kegiatan ini sangat seru sekali, karena kita punya kesempatan untuk masak masak di kelas dan mencoba berbagai jenis makanan dari kelompok lain, kita saling mencicipi menu makanan dari setiap kelompok, dan makanannya sangat enak-enak sekali. Awalnya kita harus me-review dulu menu makanan kita yang mau kita masak, saat me-review menu makanannya kita sambil nge-vlog untuk nantinya di tayangkan di depan kelas.

(Dokumentasi kegiatan masak)
Terakhir ada kegiatan masak yang ditugaskan oleh mapel pkwu, yaitu memasak makanan khas daerah, kelas kita dibagi beberapa kelompok yang tiap kelompoknya berbeda beda menu makanan, ada yang masak sate ayam, cilok, tahu gejrot, dan masih banyak lagi menu lainnya, kegiatan ini sangat seru sekali, karena kita punya kesempatan untuk masak masak di kelas dan mencoba berbagai jenis makanan dari kelompok lain, kita saling mencicipi menu makanan dari setiap kelompok, dan makanannya sangat enak-enak sekali. Awalnya kita harus me-review dulu menu makanan kita yang mau kita masak, saat me-review menu makanannya kita sambil nge-vlog untuk nantinya di tayangkan di depan kelas.


Komentar
Posting Komentar