CERITA SMA
Hai aku Mira Noviyanti disini aku mau nyeritain tentang awal masuk sekolah sampai sekarang.
Setelah lulus SMP, orang tua aku langsung mendaftarkan aku ke SMA NEGERI 1 CIKALONG WETAN. Ketika pengumuman penerimaan keluar dan aku dinyatakan diterima, aku merasa sangat bersyukur. Namun, aku juga merasakan Takut karena harus memasuki lingkungan baru yang belum aku kena.pada hari pertama MPLS, aku ditempatkan di Ruang 1. Hal tersebut membuat aku merasa sedikit tenang karena ada teman SMP aku, yaitu Namira, yang berada di ruangan yang sama. Aku langsung menghubunginya, dan kami menjalani MPLS bersama sehingga hari-hari awal terasa lebih ringan.
Namun, setelah dua hari, diumumkan bahwa seluruh peserta MPLS harus berpindah ke kelas masing-masing. Aku dan Namira pisah, dan aku ditempatkan di kelas 10 G. Saat itu aku merasa sedih dan takut karena harus beradaptasi kembali.Foto ini diambil saat pelaksanaan MPLS setelah pembagian kelas resmi. Pada momen tersebut, aku mulai berkumpul dengan teman-teman dari kelas 10 G yang baru aku kenal. Meskipun suasananya masih terasa canggung karena semuanya baru, perlahan-lahan aku mulai memahami lingkungan kelas dan beradaptasi dengan teman-teman yang ada.
Tapi Alhamdulillah, di kelas tersebut aku bertemu kembali dengan teman SMP aku, Jani, dan kami akhirnya duduk sebangku.jani sangat baik dan memiliki frekuensi yang sama dengan aku.Kami sering melalui berbagai kesulitan dan kebahagiaan bersama. Kehadirannya membuat masa-masa awal aku di SMA terasa jauh lebih ringan dan sangat membantu proses adaptasi aku.
Perlahan-lahan aku mulai mengenal teman-teman baru di kelas, yaitu Dela, Silma, Dinda, Jani, Salma, Neca, Rezi, dan Nayla. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda, tetapi semuanya memberikan suasana baru yang membuat hari-hariku lebih berwarna.Yang paling berkesan bagi aku adalah wali kelas kami, Bapak Aldi Cahyadi. Beliau merupakan sosok yang sangat baik, sabar, dan perhatian. Cara beliau membimbing membuat suasana kelas terasa nyaman, seakan-akan kami memiliki orang tua kedua di sekolah.
Waktu kelas 10, setelah demo ekstrakurikuler, aku dan Rezi bingung memilih ekskul karena semuanya terlihat menarik. Setelah dipikir-pikir, kami akhirnya memilih Pramuka. Awalnya ragu, tapi setelah dijalani ternyata seru dan banyak kegiatan yang membangun keberanian, kerja sama, dan kedisiplinan. Masuk Pramuka jadi keputusan terbaik karena memberi pengalaman, teman baru, dan pelajaran yang berguna sampai sekarang.
Selain itu, pembelajaran di kelas 10 terasa lebih ringan karena banyak mata pelajaran menerapkan sistem kolaborasi. Melalui kolaborasi tersebut, tugas-tugas tidak terlalu berat dan tidak menumpuk, sehingga aku dapat mengikuti proses belajar dengan lebih tenang dan cukup santai karena banyak projek nya juga.
Meskipun pada awalnya aku merasakan kebingungan dan kecanggungan, perlahan aku mulai menyesuaikan diri. Teman-teman aku menjadi alasan mengapa aku tetap bertahan meskipun sempat merasa tidak kuat. Dari pengalaman tersebut, aku menyadari bahwa kelas 10 adalah masa penuh pelajaran tentang adaptasi, persahabatan, dan pendewasaan diri.
Memasuki kelas 11 merupakan masa ketika aku mulai benar-benar menerima lingkungan sekolah. Setelah melalui proses adaptasi yang cukup berat di kelas 10, akhirnya aku dapat bernafas lebih lega. aku masuk ke kelas 11 G, dan Alhamdulillah suasananya jauh lebih nyaman. aku mulai merasa betah dan lebih menikmati hari-hari sekolah.Hal yang membuat kelas 11 semakin berkesan ialah wali kelas kami, Ibu Lintang.Beliau memiliki sifat yang lembut,dan selalu menciptakan suasana kelas yang terasa aman. Ada rasa dihargai dan didengarkan setiap kali beliau berbicara. Beliau benar-benar menjadi sosok yang membuat kelas 11 G terasa hangat.
Namun, kelas 11 juga menghadirkan tantangan baru, yaitu peminatan.Karena adanya peminatan, aku harus berpindah-pindah kelas dan otomatis bertemu dengan teman yang berbeda-beda. Sejujurnya, bagian itu adalah hal yang paling membuat aku cemas. Setiap memasuki kelas peminatan, aku selalu khawatir: “gimana kalo aku ga punya temen?”Rasanya seperti kembali ke masa-masa awal kelas 10 takut tidak diterima, takut canggung sendiri.Namun kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Perlahan-lahan, aku menemukan teman-teman peminatan yang ramah dan menerima aku apa adanya. Mereka mengajakku berbicara terlebih dahulu dan membuat suasana kelas terasa nyaman. Rasanya sangat melegakan, seakan beban besar di dada akhirnya terlepas.
Waktu kelas 11, sekolah mengadakan outing class. Kelas 10 & 11 pergi ke Jakarta, tapi aku kebagian ke Sumatera Barat. Awalnya aku kaget sekaligus senang karena ini pertama kalinya pergi jauh naik bus tanpa keluarga.Perjalanan di bus terasa seru tetapi melelahkan. Di dalam bus semua saling bercanda, foto-foto, ada yang tidur, dan ada yang bernyanyi, namun capeknya juga terasa karena duduk berjam-jam.Setibanya di Sumatera Barat, lelah itu langsung terbayar. Rumah adatnya sangat indah dan penuh ukiran khas. Kami berfoto bersama di depannya, dan itu jadi momen yang benar-benar berkesan. Selama di sana, aku belajar tentang budaya Minangkabau, sejarah, dan adat istiadat,Walaupun capek, outing class ini sangat bermakna. Aku pulang dengan pengalaman baru, pengetahuan baru, dan kedekatan yang semakin kuat bersama teman-teman.
Waktu kelas 11, kami mengadakan praktek nikah dalam pelajaran kolaborasi Papajar, yaitu gabungan antara PKN, SEJARAH,PAI. Awalnya semua masih bingung harus apa dan seperti apa kegiatan ini berjalan, tapi semakin latihan dan persiapan, suasananya jadi makin seru dan heboh.Kami memakai pakaian adat dan membagi peran seperti pengantin, keluarga, saksi, MC,bahkan tamu undangan. Walaupun capek karena harus latihan berkali-kali dan menyiapkan berbagai perlengkapan, semua rasa lelah terbayar dengan keseruan saat hari pelaksanaannya.Kegiatannya benar-benar meriah. Semua berusaha totalitas dalam peran masing-masing. Ada yang serius, ada yang grogi, dan ada juga yang sibuk foto setiap momen. Justru itulah yang membuat kegiatan ini terasa berkesan.Praktek nikah ini bukan hanya menyenangkan, tapi juga memberi pengalaman baru. Kami belajar tentang adat pernikahan, kerja sama tim, tanggung jawab, dan keberanian tampil di depan banyak orang. Sampai sekarang, aku masih ingat suasananya ramai, capek, tapi benar-benar seru tanpa ada duanya.
Kelas11 merupakan masa yang sangat menyenangkan.Kelasnya nyaman, gurunya menyenangkan,dan teman-temannya ramai sehingga setiap hari selalu penuh cerita. Banyak tawa, banyak momen sibuk.Walaupun sesekali saya pernah terpikir, “ingin pindah sekolah.” Entah karena lelah atau hanya perubahan suasana hati sesaat.Pada akhirnya, kelas 11 adalah masa ketika aku benar-benar merasa diterima, merasa nyaman, dan memiliki banyak kenangan berharga yang tidak akan aku lupakan.
Memasuki kelas 12 memberikan pengalaman yang berbeda. Di satu sisi, aku sudah merasa lebih memahami lingkungan sekolah, telah memiliki teman-teman yang solid, dan mulai terbiasa dengan segala aktivitas yang ada. Namun, disisi lain, kelas 12 menghadirkan tingkat kesibukan dan rasa lelah yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.Hal yang membuat aku merasa lebih tenang adalah kenyataan bahwa wali kelas aku tetap Ibu Lintang. Beliau adalah sosok guru yang sangat lembut,dan mampu menciptakan suasana kelas yang nyaman.Tahun ini aku dihadapkan pada berbagai tugas besar yang memerlukan banyak waktu dan tenaga,seperti:Penyusunan KTI,Persiapan TKA,Ulangan Harian,Serta berbagai persiapan lainnya menjelang kelulusan.Setiap hari terasa penuh tekanan. Selesai satu tugas, muncul tugas lain yang tidak kalah penting. Rasa lelah sering kali muncul, bahkan sesekali membuat aku merasa kewalahan.
Bulan Agustus waktu kelas 12, kami mengikuti karnaval terakhir di sekolah. Suasananya benar-benar seru sekaligus mengharukan karena ini momen terakhir sebelum lulus. Kami semua berusaha tampil maksimal agar tampilannya beda dari kelas lain.Yang paling seru adalah proses membuat kostum. Kami membuat baju dari kresek,unik, dan lucu banget. Walaupun terdengar sederhana, ternyata capek juga karena harus menggunting, menyusun, dan menempel satu per satu supaya hasilnya bagus. Tapi karena dikerjakan bareng-bareng, rasa capek berubah jadi tawa dan keseruan.Hari karnavalnya pun meriah. Kami berjalan bersama sambil menunjukan kostum buatan sendiri dan foto berulang-ulang karena bangga hasilnya.Walaupun lelah, karnaval ini jadi salah satu kenangan terbaik di kelas 12 seru, rame, dan penuh tawa. Rasanya ingin mengulang lagi moment itu karena benar-benar menjadi bagian dari perjalanan sekolah yang tidak akan terlupakan.
Ketika masuk kelas 12 dan tiba bulan November, akhirnya pelaksanaan TKA pun dimulai. Momen ini cukup menegangkan karena hasilnya sangat menentukan. Aku mendapat jadwal sesi 3, ruang 3, gelombang 3, yaitu hari Selasa dan Rabu. Sejak melihat jadwal, rasanya campur antara kaget, deg-degan, tapi juga ingin cepat selesai agar tidak berlarut-larut menunggu.Yang paling mengejutkan adalah saat masuk ruang ujian. Di ruang 3 hanya ada 8 orang, padahal ruang lain penuh. Suasananya terasa sepi tapi justru jadi semakin tegang karena setiap suara kecil pun terdengar jelas. Saking sedikitnya peserta, rasanya seperti suasana ujian privat hanya kami delapan orang yang berjuang dalam diam.Walaupun awalnya gugup, lama-kelamaan aku mulai tenang dan fokus mengerjakan soal. Rasanya lega ketika waktu ujian selesai. Dua hari itu terasa sangat panjang, tetapi akhirnya lewat juga.Pelaksanaan TKA menjadi salah satu pengalaman penting selama kelas 12: penuh tekanan, capek pikiran, tapi juga membuktikan bahwa kita bisa menghadapi ujian besar dalam hidup.
Namun, meskipun kelas 12 sangat melelahkan, suasana kelas justru lebih menyenangkan dan lebih hidup dibandingkan kelas 11. Teman-teman menjadi semakin kompak, saling membantu, dan saling menguatkan karena kami semua berada dalam perjuangan yang sama. Banyak momen yang membuat aku tersenyum: belajar bersama, saling memberi semangat, hingga tertawa bersama untuk menghilangkan kelelahan.Kelas 12 adalah perpaduan antara lelah, sibuk, namun tetap penuh keceriaan dan kebersamaan. Walaupun tekanan akademik sangat terasa, dukungan dari teman-teman membuat segalanya terasa lebih ringan. Pada akhirnya, kelas 12 memberikan banyak kenangan berharga yang akan selalu aku ingat.
Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua teman-teman yang sudah menjadi bagian dari perjalanan sekolahku. Terima kasih karena sudah mau berteman baik denganku dan selalu mendukung dalam keadaan apa pun.Untuk teman sebangkuku, Jani Saptiyani, terima kasih sudah selalu ada, menemani setiap hari di kelas, dan jadi partner terbaik. Lalu untuk ezi,dinda terima kasih sudah mendengarkan cerita, keluh kesah, dan suka dukaku dari kelas 10 sampai sekarang. kalian selalu jadi tempat aku berbagi cerita.Untuk teman-teman dekatku: Ezi, Neca, Nanay, Dela, Silma, dan Dinda,Jani terima kasih sudah selalu ada,dan bikin setiap hari di sekolah terasa lebih menyenangkan.Dan tentu untuk semua teman-teman kelas, terima kasih atas kebersamaan, tawa, dan kenangan yang tidak akan terlupakan.Semoga hubungan baik ini tetap terjaga sampai kapan pun. Terima kasih sudah menjadi bagian cerita terbaik dalam hidupku.
















Komentar
Posting Komentar