Langsung ke konten utama

Fragmen Tahun-Tahun Itu

 

Hai, aku Mey Mey

Seseorang yang datang ke SMA dengan seribu rasa deg-degan, penasaran, takut nggak punya teman, tapi juga diam-diam excited. Kalau dipikir sekarang, perjalanan SMA-ku bukan cuma tentang pelajaran dan kelas, tapi tentang orang-orang yang kutemuin, momen-momen kecil yang bikin hariku berubah, dan perasaan-perasaan baru yang diam-diam tumbuh sepanjang jalan.

Aku bukan tipe yang langsung percaya diri di awal. Waktu MPLS aja tanganku dingin, suaraku gemeter, dan aku sibuk pura-pura tenang padahal hatiku ribut. Tapi dari sanalah semua cerita mulai berjalan: kelas 10 yang canggung tapi kompak, kelas 11 yang penuh perubahan, teman-teman yang datang dan menetap, sampai momen kecil yang diam-diam jadi butterfly era versiku sendiri dan kelas 12 yang kelas 12 yang riuh, dekat, tapi diam-diam bikin aku belajar banyak tentang diri sendiri.


Ini cerita SMA-ku.

Ada satu hal yang tidak pernah aku sadari ketika pertama kali masuk SMA: bahwa tiga tahun yang katanya lama, ternyata bisa terasa seperti kedipan mata. Aku datang sebagai seseorang yang masih bingung, masih belajar menemukan diri sendiri, dan masih takut menghadapi dunia yang lebih besar. Tapi perlahan-lahan, SMA mengubah itu semua.

Aku masih ingat hari pertama seragam baru, sepatu yang masih kaku, dan rasa gugup yang sulit dijelaskan. Waktu itu aku hanya berharap tidak salah kelas atau salah masuk kelompok. Tapi sekarang, kalau bisa kembali ke hari itu, aku ingin bilang pada diriku yang masih kikuk: “Tenang, kamu akan baik-baik saja. Bahkan kamu akan punya banyak cerita untuk dikenang.”

Di awal MPLS, aku dipertemukan dengan dua orang: satu teman sebangkuku saat MTs, dan satu lagi yang ternyata akan menjadi teman sebangkuku selama SMA

 


Masuk kelas 10, wali kelas ku saat itu yaitu bu citra atau bu masyitoh citra. Di kelas 10 semuanya masih canggung. Kita masih jaim, masih menjaga jarak, tapi justru dari kecanggungan itu kelas kami jadi kompak banget. Guru-guru sering muji kelas kami, bahkan Pak Suhe, kepala sekolah waktu itu, suka mampir karena katanya kelas kami termasuk yang paling rapi dan disiplin. Demi hadiah bus waktu itu, kita rela menghias kelas sampai sore riweh, capek, tapi seru dan penuh tawa.

Kelas 10 juga penuh sama kegiatan P5 dan mapel kolaborasi. Dari situ muncul kelompok favoritku: Sikimbo. Di kelompok itu ada tawa, panik bareng, dan cerita-cerita kecil yang bikin tahun itu kerasa hidup

Kalau ada satu hal yang pelan-pelan ikut ngebentuk diriku selama SMA, selain kelas dan teman-teman, itu adalah kedekatanku dengan seseorang yang sudah lama aku kenal. Di masa awal kelas 10, kehadirannya bikin hari-hariku lebih ringan. Walaupun kami beda kelas, kami sering ketemu buat sharing tugas, ngobrolin hal-hal kecil yang terjadi hari itu, atau jajan bareng sebelum pulang.

Bukan cerita cinta, bukan juga momen yang terlalu besar lebih kayak pertemanan lama yang tiba-tiba terasa hangat lagi. Hal-hal sederhana seperti dia ngasih semangat, bantuin walau dia lagi sibuk, atau bawain DIY kecil biar aku tetap semangat… itu semua bikin hari sekolahku terasa lebih cerah. Meski akhirnya ada sedikit salah paham dan semuanya kembali biasa aja, aku tetap menghargai momen itu sebagai bagian kecil dari perjalanan SMA-ku.

Masuk kelas 11, semuanya berubah ke arah yang lebih dewasa. Kelas kami jadi lebih berani mengekspresikan diri, sampai banyak guru bertanya, “Kok kelas kalian beda banget sekarang?”

Wali kelas kami, Pak Hidayat atau Pahi jadi sosok yang penyayang sekaligus seru. Beliau bukan Cuma ngajar, tapi bimbing kami dengan caranya sendiri. Tahun itu banyak sekali momen berkesan, momen yang bikin kelas 11 terasa lebih matang dan lebih hidup.


Di  kelas 11 mulai ada mapel pilihan, aku bersyukur banget ketemu kelas peminatan Geografi 3, yang vibes-nya asik dan bikin nyaman. Dari yang heboh sampai yang pendiam, semuanya nyatu jadi energi positif yang bikin belajar terasa menyenangkan.

Itu juga masa ketika aku aktif banget ikut Aksi cabang Marching Band  latihan, tampil, capek, tapi bangga, aku juga menjadi Sekretaris Aksi.  Rasanya aku menemukan diriku yang lebih kuat dan lebih percaya diri di tahun itu.



Wali kelas ku di kelas 12 ini, Pa Nycken, jadi sosok yang selalu ada. Beliau aktif banget, perhatian, dan benar-benar mendampingi kami sampai akhir. Rasanya aman punya guru yang nggak Cuma hadir di kelas, tapi juga ngerti anak-anaknya satu per satu


DI kelas 12 aku  bener bener  bersyukur banget bisa ada di kelas ini, karena setiap hari tuh selalu ada aja hal kecil yang bikin ketawa. Kelasnya zero privacy, Tapi justru itu yang bikin kelasnya hidup. Kocak, rame, tapi tetap care satu sama lain.

Dan satu hal yang jadi ciri khas kelas 12E: lokasinya di lantai atas. Karena itu, setiap nongkrong di depan kelas rasanya kayak punya “tribun VIP”. Kita sering duduk bareng di depan kelas sambil ngeliatin anak-anak lain yang kesiangan, yang baru lari-lari masuk gerbang, atau yang datang sambil ngantuk bawa tas berat. Kadang sambil ngemil, kadang sambil ngegosip kecil, pokoknya itu jadi rutinitas lucu tiap pagi.

Di akhir masa aku punya seseorang yang bikin aku ngerti rasanya benar-benar diperjuangkan. Ada masa-masa ketika aku ngerasa diabaikan, ada saat aku jatuh, tapi ada juga saat aku bangkit lagi. Semua itu pelan-pelan membentuk aku cara aku sayang sama orang, cara aku bertahan, sampai cara aku belajar menghargai diriku sendiri.

Jujur, tanpa perjalanan-perjalanan kecil itu, mungkin SMA-ku bakal kurang warna. Karena dari situ aku ngerti satu hal penting: tumbuh itu nggak selalu mudah, tapi selalu berarti. Dari hubungan-hubungan yang datang dan pergi, dari orang-orang yang bikin aku belajar sabar, dan dari momen-momen yang kadang bikin nangis tapi akhirnya bikin kuat.

Kelas 12 itu bukan Cuma tentang belajar buat kelulusan, tapi juga tentang belajar ngerti diri sendiri. Tentang ketawa bareng, drama kecil, foto-foto absurd, dan momen yang nanti bakal kangen banget setelah semuanya selesai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE IMPACT OF BOTTLE RECYCLING

  By Rizka, Sulis, Dela, Robi, Salman, Haikal Waste is the remaining product or item that is no longer used. There are 3 ways or methods to manage waste namely reducing, reusing and recycling plastic here will discuss about recycling the plastic bottle waste, recycling plastic bottle is very beneficial and has many positive impacts. Although some students actively participate in this practice, there are still many students who  cannot or refuse to recycle plastic bottles. The following is the impacts of recycling of bottle waste for our life From our interviews and research, several positive and negative impacts of recycling plastic bottle waste have been identified, such as air pollution, where certain methods of recycling plastic bottles can harm air quality. Recycling bottle waste can impact the quality of the product itself. Poor and inadequate management during production stages can result in low-quality products. Recycling plastic bottle waste also leads to an increase i...

Story at School

 Rika Dimas Fitria  XII.i B.Indonesia Story at School Kelas X  Pada suatu hari,,saya telah lulus MTs sampai orang tua meneruskan saya ke Sekolah SMAN 1 Cikalongwetan ini,lalu saya daftar ke SMAN 1 Cikalongwetan bersama kakak dari pagi sampai jelang malam,sampai menunggu pengumuman diterima atau tidaknya,sampailah Alhamdulillah saya diterima disekolah ini.Lalu salah satu teman sosmed menghubungi saya bahwa kita sekelas,dia bernama Shifa Sulastri.karena sekolah ini pada era covid kita sekolah dibagi sesi pertama dan kedua lalu saya sesi dua sampai bertemu pada pertemuan sekolah saya bertemu dengan Shifa langsung,tidak hanya Shifa bahwa saya juga sekelas dengan temen SD saya yaitu Siti Sopiah,sampai pada hari-hari berikutnya saya berkenalan dengan teman yang lainnya seperti N.Sani,Suci dan yang lainnya.Lalu wali kelas X kita adalah ibu Amila sholihah lalu saya mengerjakan tugas sebagian BDR dan diadakannya projek Pertama yang berjudul KTI (karya tulis Imiyah) dan disatukan k...

CERITA YANG TIDAK AKAN BERAKHIR

Saskia Agustin Masa corona akhirnya berakhir, semua yang berada di rumah akhirnya kembali menjalani kehidupan seperti semula walaupun masih identik dengan pemakaian masker yang wajib dipakai apabila akan keluar rumah. Seperti halnya denganku, saskia. Mulai kembali menjadi siswi yang berangkat pagi untuk ke sekolah, yang juga seperti itu. Pembelajaran di sekolah masih belum efektif ternyata, jadi para guru memberikan alternatif agar bisa melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah dengan menerapkan sistem yang dikelas para murid dibagi 2 atau dengan sebutan sesi a dan b.  Belum begitu banyak mengenal siapa saja yang ada di kelas hanya satu, siti. Unik memang ketika Aku menyangka kalau Siti itu orangnya memiliki badan yang tinggi hahah. Alurnya singkat sampai tanpa tidak sadar kalau kita sudah begitu dekat tapi bukan hanya siti ada satu orang lagi yang sampai sekarang dekat denganku dia Rahma, orang ketika mendengar namanya pasti akan langsung bilang " anu pinter tea", asli mema...