Langsung ke konten utama

Jejak-jejak opi: Kisah yang tumbuh di masa SMA

 

Jejak-jejak opi: Kisah yang tumbuh di masa SMA

Hai kenalin namaku Sopilah, tapi hampir semua orang memanggilku Opi—nama yang sederhana, tapi penuh cerita yang pelan-pelan menuntunku menjadi diriku yang sekarang. Aku lahir sebagai anak bungsu, posisi yang kadang membuatku jadi pusat perhatian, tapi juga sering jadi tempat orang menitipkan harapan. Dari kecil, aku belajar bahwa hidup itu bukan Cuma soal mengikuti jejak kakak-kakak, tapi juga menemukan jalan yang pas untuk langkahku sendiri.

Perjalananku nggak selalu mulus, ada saat-saat aku tersesat, ragu, bahkan hampir berhenti. Tapi di setiap jatuh dan bangkit itu, aku menemukan potongan-potongan kecil yang membentuk versi terbaik dari diriku. Dan di sinilah aku sekarang—masih belajar, masih berproses, tapi semakin yakin bahwa setiap langkah yang kuambil punya makna.

Ini kisahku. Perjalanan seorang Opi yang mungkin terlihat biasa, tapi di baliknya ada hati yang selalu berusaha tumbuh, mencintai, dan memahami dunia sedikit demi sedikit.

Ini kisahku di SMA, pada awal masa pengenalan lingkungan sekolah, aku merasa ini bukan tempatku, karena ini bukan sekolah impianku. Awalnya, berat sekali kaki ku melangkah ke sekolah ini, karena hanya aku belum merasa nyaman. Tapi, ada satu keajaiban yang ngebuat aku jadi nyaman di sekolah ini.

Nah, kenalin ini kelas yang ngebuat aku nyaman ada di sekolah menengah atas ini, Kelas 10?,11?,12? Ya, kelas E, kelas yang awalnya 37 orang pada kelas 10, dan berakhir hanya 31 orang pada kelas 12, miris, tapi apa yang akan di perbuat, jika itu keputusan mereka untuk mengundurkan diri dari kelas.

Pada awal kelas 10, kelas ini begitu aneh bagiku, orang yang berkubu-kubu, dan tatapan mata yang kurang enak untuk aku lihat, tapiiiiii yang tidak di sangka oleh ku, tatapan itu adalah tatapan yang hari nanti mungkin aku rindukan. Begitu banyak momen seru yang terjadi pada saat kelas 10, momen indah yang ingin aku ulangi kembali, masa mengenal teman yang menurut ku menyebalkan, padahal sifat aslinya baik banget. Tapi, ada juga yang sebaliknya, yang menurut ku baik, ternyata paling menyebalkan. Huftttt, memang manusia susah untuk di tebak, dasarnya memang tuhan maha membolak-balikkan hati manusia.


Ini nih paling gong nya, pada saat kelas 11. Kelas yang kelas 10 nya aktif dalam semua hal, dan selalu menjuarai prestasi akademik di tingkat sekolah, tiba-tiba di cap jadi kelas yang kurang dalam hal itu. Kecewa?, pasti, tapi tak apa, semua bisa di perbaiki. Kelas jadi kurang kompak, iya. Tapi itu semua ada sesuatu di baliknya, kelas 11 itu saat kami mencari jati diri kami, makanya, pada saat itu, kami menjadi diri sendiri. Dan menjadi agak acuh kepada kelas sendiri.

Tidak perlu banyak yang di bicarakan di kelas 11. Kamu belajar banyak hal pada waktu itu. Untuk menjadi kelas yang selalu unggul dalam semua aspek itu tidak mudah. Kita perlu terus belajar untuk menghadapi omongan omongan di luar sana.

Pada hampir paragraf akhir ini, aku menyatakan bahwa aku jatuh cinta pada kelas ini. Untuk mendefinisikan nya pun tak mudah bagiku, karena aku sudah takut untuk meninggalkan kalian dikala nanti, doa terbaik untuk kalian teman-teman ku, kelas yang menurut orang lain berisik, kelas yang menurut mereka kompak selalu, padahal memang betul.

Di akhir kelas 12 ini, selalu ada momen terbaik dengan kalian, dengan wali kelas wali kelas tercinta kami, mudahkanlah selalu perjalanan kami dalam semua bidang, aku selalu ingin jadi manusia berguna di akhir masa SMA ini.

“Dan pada akhirnya, aku hanya ingin bilang… terima kasih karena sudah menjadi rumahku selama tiga tahun. Meski nanti langkah kita berbeda, aku harap kenangan ini tetap tinggal, tetap hidup, tetap jadi alasan untuk tersenyum saat semuanya terasa berat. Kelas ini, adalah salah satu bagian terbaik dari hidupku.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE IMPACT OF BOTTLE RECYCLING

  By Rizka, Sulis, Dela, Robi, Salman, Haikal Waste is the remaining product or item that is no longer used. There are 3 ways or methods to manage waste namely reducing, reusing and recycling plastic here will discuss about recycling the plastic bottle waste, recycling plastic bottle is very beneficial and has many positive impacts. Although some students actively participate in this practice, there are still many students who  cannot or refuse to recycle plastic bottles. The following is the impacts of recycling of bottle waste for our life From our interviews and research, several positive and negative impacts of recycling plastic bottle waste have been identified, such as air pollution, where certain methods of recycling plastic bottles can harm air quality. Recycling bottle waste can impact the quality of the product itself. Poor and inadequate management during production stages can result in low-quality products. Recycling plastic bottle waste also leads to an increase i...

Story at School

 Rika Dimas Fitria  XII.i B.Indonesia Story at School Kelas X  Pada suatu hari,,saya telah lulus MTs sampai orang tua meneruskan saya ke Sekolah SMAN 1 Cikalongwetan ini,lalu saya daftar ke SMAN 1 Cikalongwetan bersama kakak dari pagi sampai jelang malam,sampai menunggu pengumuman diterima atau tidaknya,sampailah Alhamdulillah saya diterima disekolah ini.Lalu salah satu teman sosmed menghubungi saya bahwa kita sekelas,dia bernama Shifa Sulastri.karena sekolah ini pada era covid kita sekolah dibagi sesi pertama dan kedua lalu saya sesi dua sampai bertemu pada pertemuan sekolah saya bertemu dengan Shifa langsung,tidak hanya Shifa bahwa saya juga sekelas dengan temen SD saya yaitu Siti Sopiah,sampai pada hari-hari berikutnya saya berkenalan dengan teman yang lainnya seperti N.Sani,Suci dan yang lainnya.Lalu wali kelas X kita adalah ibu Amila sholihah lalu saya mengerjakan tugas sebagian BDR dan diadakannya projek Pertama yang berjudul KTI (karya tulis Imiyah) dan disatukan k...

CERITA YANG TIDAK AKAN BERAKHIR

Saskia Agustin Masa corona akhirnya berakhir, semua yang berada di rumah akhirnya kembali menjalani kehidupan seperti semula walaupun masih identik dengan pemakaian masker yang wajib dipakai apabila akan keluar rumah. Seperti halnya denganku, saskia. Mulai kembali menjadi siswi yang berangkat pagi untuk ke sekolah, yang juga seperti itu. Pembelajaran di sekolah masih belum efektif ternyata, jadi para guru memberikan alternatif agar bisa melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah dengan menerapkan sistem yang dikelas para murid dibagi 2 atau dengan sebutan sesi a dan b.  Belum begitu banyak mengenal siapa saja yang ada di kelas hanya satu, siti. Unik memang ketika Aku menyangka kalau Siti itu orangnya memiliki badan yang tinggi hahah. Alurnya singkat sampai tanpa tidak sadar kalau kita sudah begitu dekat tapi bukan hanya siti ada satu orang lagi yang sampai sekarang dekat denganku dia Rahma, orang ketika mendengar namanya pasti akan langsung bilang " anu pinter tea", asli mema...