MASA-MASA SMA
Hari ini menjadi penanda berakhirnya sebuah perjalanan
panjang yang penuh cerita. Sekolah bukan hanya tempat belajar matematika,
bahasa, atau ilmu pengetahuan lainnya, tetapi juga tempat kami belajar tentang
arti persahabatan, kerja sama, kesabaran, kegagalan, dan keberanian untuk terus
mencoba.
Terima kasih kepada semua guru yang telah membimbing kami
dengan penuh kesabaran, bahkan ketika kami sulit diatur dan sering membuat
kesalahan. Setiap nasihat, teguran, dan ilmu yang diberikan tidak akan pernah
kami lupakan. Terima kasih juga kepada staf sekolah yang telah membantu dalam
kelancaran setiap aktivitas kami selama ini.
Untuk teman-teman seperjuangan, terima kasih atas tawa,
tangis, candaan, dan momenmomen sederhana yang ternyata sangat berarti. Kita
mungkin akan berjalan di jalan yang berbeda setelah ini, namun kenangan di
sekolah ini akan tetap hidup dalam ingatan kita selamanya.
Perpisahan ini memang terasa berat, tetapi kami sadar bahwa
setiap pertemuan pasti memiliki akhir. Ini bukanlah akhir dari cerita,
melainkan awal dari perjalanan baru untuk menggapai mimpi masing-masing. Semoga
langkah kita selalu diberi kemudahan dan kita semua bisa menjadi pribadi yang
lebih baik di masa depan.Terima kasih sekolah tercinta, tempat kami bertumbuh
dan belajar menjadi diri sendiri.
Pagi itu, lapangan sekolah berubah menjadi tempat berkumpul
yang penuh tawa. Setelah sekian lama belajar, menghadapi tugas, ulangan, dan
berbagai kesibukan kelas, akhirnya mereka berkumpul hanya untuk satu hal:
mengabadikan kebersamaan.
Dengan seragam putih abu-abu yang sudah menemani hari-hari
panjang di sekolah, mereka berdiri dan jongkok bersama, membentuk barisan
sederhana tapi penuh makna. Ada yang berpose serius, ada yang tertawa lepas,
ada pula yang sekadar tersenyum malu. Di balik itu semua, tersimpan ratusan
kenangan tentang pagi yang terburu-buru, tugas yang menumpuk, candaan di kelas,
dan cerita-cerita kecil yang mungkin tak akan terulang lagi.
Langit sore yang cerah seakan menjadi saksi momen itu—momen
di mana mereka bukan hanya sekadar teman sekelas, tapi sudah seperti keluarga.
Foto itu bukan hanya sekadar gambar, melainkan pengingat bahwa pernah ada
hari-hari di mana mereka saling menguatkan, tertawa bersama, dan berbagi mimpi
di tempat sederhana bernama sekolah.Dan meskipun suatu saat langkah mereka akan
berjalan ke arah yang berbeda, kenangan hari itu akan selalu tertinggal di
sudut hati mereka.
Di depan gedung sekolah bertuliskan S1 CIKAL, mereka
berdiri berbaris rapi dengan senyum yang penuh makna. Hari itu bukan sekadar
hari biasa, melainkan momen istimewa untuk memperingati Hari Guru. Para siswa
mengenakan seragam batik sekolah, sementara seorang guru berdiri di tengah
mereka, memegang kenang-kenangan sederhana yang penuh arti.
Bukan seberapa mewah hadiah itu, tetapi rasa terima kasih
yang terbungkus di dalamnya. Di balik senyuman dan pose-pose kecil mereka,
tersimpan rasa hormat yang tak bisa diukur dengan kata-kata. Guru yang selama
ini mendidik, menegur, membimbing, dan menguatkan mereka, hari itu menjadi
sosok yang dirayakan dengan tulus.
Langit yang sedikit mendung seolah menambah suasana haru.
Di tangga sekolah itu, mereka tak hanya berfoto, tetapi juga sedang
mengabadikan sebuah momen: momen ketika muridmurid mengucapkan terima kasih
kepada pahlawan tanpa tanda jasa.
Hari Guru bukan hanya tentang upacara atau seremonial, tapi
tentang mengingat bahwa di balik setiap mimpi yang mereka kejar, selalu ada
sosok guru yang pernah percaya pada mereka terlebih dahulu.
Lapangan sekolah sore itu dipenuhi lautan seragam abu-abu.
Di bawah langit yang mendung, ratusan siswa berkumpul membentuk lingkaran
besar. Teriakan sorak menggema bersamaan dengan kepulan asap warna-warni yang
perlahan mengisi udara. Bukan tanda marah, bukan pula kericuhan—melainkan
luapan semangat, kebersamaan, dan perasaan yang sulit diungkapkan dengan
kata-kata.
Bendera berkibar, tangan terangkat ke atas, beberapa siswa
saling merangkul bahu, seolah tak ingin melepaskan momen itu begitu saja. Itu
adalah momen saat semua rasa capek belajar, tugas menumpuk, dan hari-hari penuh
ujian seakan luruh dalam satu sorakan bersama.
Di tengah asap dan gemuruh itu, tersimpan rasa haru:
kebersamaan yang mungkin jarang terulang lagi. Sebuah momen perayaan,
pelepasan, atau mungkin momen terakhir sebelum mereka melangkah ke cerita hidup
yang berbeda.
Dan saat asap perlahan menghilang, yang tersisa hanyalah
satu hal: kenangan yang akan selalu hidup dalam ingatan mereka.
Di dalam sebuah ruang kelas yang hangat dan penuh tawa,
para siswa duduk rapi sambil memegang alat musik kecil bernama melodika. Hari
itu bukan hari belajar biasa. Mereka sedang mengikuti praktik seni musik
bersama guru, belajar memainkan nada demi nada dengan penuh semangat.
Beberapa siswa tersenyum sambil mencoba meniup melodika
mereka, ada yang masih belajar mencari nada yang tepat, ada juga yang sudah
percaya diri mengiringi dengan gitar. Di depan kelas, guru dengan sabar memandu
jalannya latihan, memberikan arahan, sesekali ikut tersenyum melihat antusiasme
murid-muridnya.
Suasana kelas terasa hidup. Bukan hanya karena bunyi nada
yang saling bersahutan, tapi juga karena rasa kebersamaan yang terbangun dari
proses belajar bersama. Tidak ada yang merasa paling pintar, tidak ada yang
tertinggal. Semua belajar dalam irama yang sama.
Kegiatan itu bukan hanya tentang musik, tetapi tentang
kerja sama, keberanian untuk mencoba, dan keberanian untuk tampil tanpa takut
salah. Sebuah momen sederhana, tapi penuh kenangan di dalam perjalanan sekolah
mereka.
Kegiatan yang terlihat dalam foto ini adalah sebuah acara
kolaborasi seni yang diadakan oleh D'Animus, sebuah komunitas atau organisasi
yang fokus pada pengembangan seni dan budaya. Acara ini berlangsung di sebuah
tempat terbuka yang tampaknya merupakan lapangan olahraga, dengan panggung yang
didirikan di latar belakang dan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.
Acara ini diadakan pada tanggal 26-27 Mei 2005, bertepatan
dengan peringatan Hari Pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November. Hal ini
menunjukkan bahwa acara ini tidak hanya sekadar kegiatan seni biasa, tetapi
juga memiliki makna simbolis dan nasional, sebagai bentuk penghormatan terhadap
jasa pahlawan dan semangat patriotisme.
Peserta yang hadir dalam acara ini terdiri dari berbagai
kalangan, termasuk siswa-siswi dan guru dari sekolah sekitar. Mereka tampil
dengan pakaian tradisional Indonesia, yang menunjukkan bahwa kegiatan ini juga
bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya lokal kepada generasi
muda. Pakaian yang dikenakan beragam motif dan warna, mencerminkan kekayaan
budaya Indonesia yang beragam dan penuh warna.
Dalam foto ini, terlihat bahwa peserta berpose dengan penuh
semangat dan kebanggaan, sebagian dari mereka melakukan gestur tangan yang
menunjukkan simbol tertentu, mungkin sebagai bagian dari penampilan atau
pertunjukan yang mereka tampilkan. Ada juga beberapa peserta yang sedang duduk
di bagian depan, menunjukkan rasa percaya diri dan antusiasme terhadap acara
tersebut.
Di sisi kiri dan kanan, terdapat dua orang dewasa yang
tampak sebagai pengawas atau panitia acara. Mereka mengenakan pakaian seragam
yang menunjukkan peran mereka sebagai fasilitator atau pengarah kegiatan.
Mereka berdiri dengan sikap yang sopan dan penuh perhatian, mengawasi jalannya
acara dan memastikan semuanya berjalan lancar.
Komentar
Posting Komentar