MASA SMA
Halo, namaku Adinda Sinta Nurwanda. Ini adalah sedikit cerita tentang perjalanan hidupku semasa SMA. Pada tahun 2023, tepatnya tanggal 20 Juni 2023, aku diterima di SMAN 1 Cikalong Wetan. Awalnya aku pesimis akan diterima di sana, tapi ternyata kebahagiaan yang tak terduga datang—aku benar-benar menjadi siswa SMAN 1 Cikalong Wetan.
Sejujurnya, aku tak pernah membayangkan bahwa aku akan bolak-balik sejauh 13 km setiap hari selama tiga tahun. Seperti sekolah pada umumnya, sebelum benar-benar menjadi siswa dan mulai belajar, ada masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pada hari pertama MPLS, aku ternyata sekelas dengan teman dari SD-ku. Aku merasa lega dan senang karena ada teman, jadi aku tidak merasa sendirian. Tetapi itu hanya bertahan dua hari. Pada hari ketiga, kelas di-rolling lagi. Di kelas baru, aku tidak mengenal siapa pun. Tidak ada seorang pun yang satu alumni denganku—benar-benar hanya aku sendiri yang berasal dari SMPN 1 Cipeundeuy.
Jujur, aku takut tidak punya teman. Tapi kekhawatiranku itu tidak terjadi. Aku berkenalandengan Silma, kita jadi sering ngobrol bercanda bareng dan memutuskan untuk duduksedangkan bareng saling cerita kehidupan masing masing. banyak deh yang kita bagi diabaik banget selalu sabar banget dan kuat banget orang nya masa mpls aku jadi seru karena ada dia
Pada awal kelas 10, aku merasa masa tersebut cukup berat bagiku. Ternyata metode pembelajaran di SMA sangat berbeda dengan masa SMP, yang sebagian besar dilakukan secara individu. Di SMA, kami lebih sering bekerja dalam kelompok, membuat bahan presentasi, lalu mempresentasikannya. Ada juga masa “collab”, yaitu masa ketika beberapa mata pelajaran yang saling berkaitan digabungkan untuk membahas permasalahan kehidupan yang relevan dengan materi tersebut.
Aku tidak tahu, mungkin bagi sebagian orang metode ini dapat membantu mereka berkembang. Namun bagiku tidak demikian. Aku merasa tertinggal dan sulit untuk maju. Saat collab, materi yang masuk ke kepalaku sangat sedikit. Kami lebih banyak diberi masalah lingkungan, lalu diminta mencari solusi yang tepat secara berkelompok. Akibatnya, aku merasa kurang memahami materi, meski kegiatan tersebut sebenarnya cukup seru. Entahlah, aku sendiri masih bingung. Yang jelas, aku merasa kurang cocok bekerja dalam kelompok apalagi dengan orang baru. Itu juga menjadi salah satu hal yang sempat membuatku takut.
Namun, terlepas dari itu semua, banyak sekali momen berkesan selama kelas 10. Aku mulai mengenal teman-teman sekelas, dan sekolah tidak lagi terasa sesulit sebelumnya. Setelah masa collab, kami juga memiliki projek kelas 10, yaitu pembuatan suatu produk atau penampilan yang bermanfaat. Salah satunya adalah projek dengan hasil akhir berupa pagelaran kekhasan daerah. Dalam pagelaran tersebut, kami menampilkan makanan khas, budaya khas, dan lain-lain. Aku sendiri menampilkan berbagai perkakas khas daerah, yang dibalut dalam sebuah drama bertema kekeluargaan.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dengan semuanya pelajarannya, lingkungannya, dan orang-orangnya. Aku juga sudah mulai dekat dengan teman-teman lainnya: Mira, Rezi, Nayla, Neca, dan Della. Mereka memiliki sifat yang berbeda-beda, tetapi justru itulah yang membuat kehidupan SMA-ku terasa lebih nyaman dan menyenangkan. mereka selalu menghadirkan kebaikan yang membuat aku bersyukur bisa berteman dngan mereka.siap sedia selalu membantuku saat aku sedang berada dalam kesulitan.
Menjelang kelas 11, kami harus menentukan empat mata pelajaran peminatan yang akan berpengaruh pada masa depan kami. Saat itu aku benar-benar bingung. Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku akhirnya memilih Fisika, Kimia, Matematika, dan Biologi. Sebenarnya aku agak menyayangkan keputusanku karena tidak memilih Sosiologi,tetapi pada akhirnya aku mencoba menerima keputusan tersebut.
Memasuki kelas 11, kami kembali harus beradaptasi dengan hal baru. Selama dua hari dalam seminggu, aku harus berpindah-pindah kelas sesuai mata pelajaran peminatan yang kupilih. Hari Rabu dan Kamis menjadi hari yang paling melelahkan, terutama Kami mungkin karena Fisika dan Matematika berlangsung selama tiga jam. Namun, setelah berhasil melewati hari Kamis, rasanya benar-benar lega.
Di masa ini juga, aku bertemu banyak teman baru. Teman dari kelas lain bisa menjadi teman sekelas di dua hari ini. Jika dipikir-pikir, kami seperti memiliki lima kelas sekaligus: kelas reguler, kelas Kimia, kelas Fisika, kelas Biologi, dan kelas Matematika dengan orang-orang dan suasana yang berbeda-beda. Tentu saja, suasana kelas reguler tetap jadi yang paling nyaman.
Sebagai siswa peminatan, kami tetap memiliki proyek dan kolaborasi. Rasanya luar biasa. Seiring berjalannya waktu, kami mulai terbiasa dengan sistem peminatan ini. Di sinilah kami bisa lebih dekat dengan teman-teman baru dari kelas lain, meskipun pada akhirnya kami tetap sering berkumpul dengan teman sekelas atau teman yang sudah dikenal sebelumnya. Walaupun sudah terbiasa, hari Kamis tetap menjadi hari yang paling berat. Terlepas dari peminatan yang berbeda-beda, kelas reguler selalu menjadi tempat kami kembali. Ada masa ketika kami bergotong royong melakukan berbagai hal bersama. Masa-masa kolaborasi dan pengerjaan proyek membuat perjalanan kelas 11 dipenuhi kebersamaan yang mempererat hubungan di antara kami. banyak sekali hal hal seru yang di jalani dan tak terlupakan.
Memasuki kelas 12 rasanya seperti memasuki masa pendewasaan—masa yang lebih berat sekaligus paling seru. Pada tahap ini, kita benar-benar harus mulai memikirkan masa depan: apa rencana kita setelah lulus, ke mana kita akan melangkah, dan apa yang ingin kita capai. Peminatan memang bukan hal yang melelahkan lagi di kelas 12, meskipun kelelahan itu tetap ada, tetapi ternyata masih banyak hal yang lebih menguras tenaga.
Di masa ini pula, kita diperkenalkan dengan KTI sebagai tugas akhir SMA. Namun sebelum KTI, kita harus melalui TKA (Tes Kemampuan Akademik) yang menjadi dasar validasi nilai rapor kita. Sementara itu, ketika berada di kelas 10, kita lebih ditekankan untuk berkolaborasi dan mengerjakan proyek, dengan sedikit sekali pembahasan materi. Kelas 11 pun hampir sama, meskipun peminatan membuat kita lebih fokus pada materi. Belum lagi. harus memikirkan SNBT yang menunggu di depan, sehingga semuanya terasa datang bersamaan. Rasanya kepala penuh, bingung harus memikirkan apa terlebih dahulu.
Aku merasa kurang maksimal dalam mengejar nilai dan prestasi selama SMA. Terlalu banyak rasa takut dan malu untuk memulai, dan kadang merasa tidak mampu. Hal itu tentu tidak boleh dicontoh seharusnya kita berani mencoba segala hal sejak awal.
Namun, di balik semua itu, aku sangat bersyukur bisa menjadi siswa SMAN 1 Cikalong Wetan. Ada banyak hal berharga yang bisa aku ambil dari sana: diajar oleh guru-guru hebat, bertemu teman-teman baik, dan mendapatkan pengalaman baru. Aku juga bersyukur memiliki teman-teman yang solid; setiap ada tantangan dan kesedihan, selalu ada kebahagiaan yang bisa disyukuri.
Begitulah masa SMA bagiku. Terima kasih untuk setiap orang yang telah hadir dalam hidupku dan menjadikanku pribadi yang lebih baik.




Komentar
Posting Komentar