Langsung ke konten utama

Sejuta Kilasan Memori

SYIFA MUTIARA SALSABILA

10 JUNI 2023

Bahkan setelah tiga tahun lamanya tapi terasa seperti beberapa hari lalu. Kala itu adalah langkah dia menutup sebuah catatan penting yang sudah habis halamannya dan awal terbukanya lembaran putih kosong yang entah harus diisi oleh apa. Satu kata yang terngiang ketika mengingat kala itu “overthingking”. Si introvert yang temannya bisa dihitung jari, walaupun dengan aba-aba memasuki lingkungan baru tapi itu tetap hal yang cukup sulit. Dan disinilah langkah seseorang dimulai. Iya, di sebuah lingkungan asing yang orang kenal dengan nama institut kebanggaan “SMA Negeri 1 Cikalongwetan” atau nama kerennya “S1CIKAL” yang jadi titik awal perubahan besar bagi hidupnya.

SEGALA BAGIAN DI JULI ITU

Langkah baru, orang-orang baru, dan harapan baru mulai mengiringi perjalanan mencari jati diriku, mereka sebut ini masa putih abu. Diawali dengan membawa bendera kecil yang aku genggam erat dan sampiran kardus di leher yang terbalut kertas berwarna biru. Masih lekat dalam memori, di kertas itu ada foto yang ku pampang karena patuhnya aku mengikuti ketentuan, sampai saking tidak nyamannya aku rasa setiap orang yang berpapasan pasti menoleh pada apa yang orang sebut name tag itu padahal aku tahu tidak akan ada yang se-teliti itu ketika memperhatikan orang. Kala itu, fokus ku adalah melihat seberapa bagus tanda nama yang orang buat. Aku ingin tahu seberapa niat nya mereka membuat benda itu, bahkan aku pun membuat kepangan indah untuk menggantungnya dan pastinya orang-orang memasang foto sebagus mungkin di sana. Tapi tebakan ku adalah mungkin aku salah satu dari sedikit orang yang menggunakan foto ijazah di tanda namanya.

Upacara bendera di lapangan luas menjadi pembuka hari. Cuaca yang sedikit panas dan terik dari sang surya masih bisa tertahan. Lewat upacara pertama ku di sekolah, Bapak Kepala Sekolah memberitahukan banyak hal baru tentang sekolahnya, atau mungkin sudah menjadi sekolahku juga. Pertama kalinya aku mengetahui jargon sekolah, “S1CIKAL!...- JAYA! JAYA! JAYA! JUARA!” dipimpin oleh bapak kepala sekolah dan dijawab serentak oleh semua siswa membuat gema yang entah mengapa mampu menggugah semangat.

Berkenalan dengan teman kelas yang wajahnya kini tak asing diingatan. Lucu nya adalah aku menebak-nebak kepribadian orang dari wajah mereka. Jahat memang, dan ini sangat tidak patut dicontoh karena “don't judge someone by the cover” pengalaman hidup memang pelajaran terbaik dan kutipan tadi aku buktikan lewat pengalaman. Hebatnya tuhan dalam menentukan jalan hidup, teman kelas yang dulu aku kira judes karena saat berkenalan sangat tak acuh tapi tanpa disangka kami menjadi sahabat dekat sampai saat ini.

Seminggu pertama, aku mengeksplorasi makanan karena ini adalah salah satu hal penting, tentunya bersama teman baru. Kala itu, aku mencoba banyak makanan dengan menjelajahi kantin sekolah yang ternyata punya nama julukan. “WARNEP” itu kata orang-orang, singkatan dari “Warung Geuneup” emang S1CIKAL nyunda abis, artinya enam warung di bahasa Indonesia. Julukan ikonik ini tentunya bukan semata-mata asal sebut tapi karena total di kantin itu ada enam stand warung, yang membuatku penasaran siapa gerangan penerbit julukan fenomenal tersebut di S1CIKAL.

SERU DERU P5

Angkatan serba ada mungkin cocok untuk angkatan kelasku. Terkesan biasa saja dan hampir semua orang mungkin mengalaminya, tapi ayo berbagi sedikit pengalaman melalui cerita ini. Waktu itu kelas sepuluh, aku merasa sedikit sulit beradaptasi dengan lingkungan baru terutama pertemanan di kelas. Tapi, karena kurikulum berbasis proyek, ya, aku membentuk kelompok P5 pertama kalinya. Seru, saking seru nya tak henti aku berdebat karena perbedaan pendapat dengan seorang teman satu kelompok. Kalau diingat-ingat itu terlalu konyol, mencerminkan kepribadianku yang masih kekanak-kanakan dan tak mau kalah. Kemudian, proyek pertama berlalu begitu saja namun masih membekas di ingatan karena aku terkesima dengan kemampuan teman-teman kelas yang sangat luar biasa. Ketika itu kelompokku membuat “Ecobrick” cara mendaur ulang yang umumnya orang gunakan untuk proyek akhirnya, namun ada kelompok teman kelas yang membuat prototipe alat pembangkit listrik tenaga sampah, luar biasa bukan?. Dan entah kenapa waktu itu juga aku berpikir sepertinya tiga tahun kedepan bukan hal yang mudah.

Sampai tibalah di proyek kedua, kelas kami akan menampilkan pagelaran. Dan ya, menyatukan banyak kepala dalam satu titik it’s easy to say but we need extra power of teamwork. Bahkan itu mungkin pertama kali aku menangis di sekolah. Kini aku malu mengingatnya, entah secengeng apa orang bilang tapi kala itu mungkin aku sedikit lelah dan rasa itu terungkapkan lewat tangisan, ya teman-teman yang lain juga merasakan hal yang sama ketika itu. Kami berusaha sebaik mungkin dan usaha tidak menghianati hasil bukan? Setidaknya kelas kami dapat menampilkan hal terbaik, kami sudah berusaha. Yeah, at that time I was always proud of my classmates.

Proyek ketiga ku tugas akhirnya adalah membuat film pendek dengan tema “Bangunlah Jiwa & Raganya” yang menyoroti isu kesadaran tentang bahaya penyimpangan sosial dikalangan remaja. Niatku mencantumkan link YouTube film pendek itu, namun karena sepertinya temanku sudah menghapus unggahan film itu jadi akan aku tampilkan poster filmnya.

Akhir Januari tahun 2025 dengan semangat baru aku mengikuti Study Tour mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah yang menjadi tempat tujuan wisata edukasi terpilih. Disana aku mengunjungi () Provinsi Sumatera Barat, melihat rumah asli padang bukan rumah makan padang dan berbagai macam keunikannya. Tour guide kala itu ternyata asli berasal dari Sumatera, beliau menjelaskan banyak hal mulai dari kebudayaan, struktur rumah, dan menyebutkan setiap komponen yang ada di dalam rumah gadang itu, tentunya dengan logat padang yang kental sangat asing di telinga. Dengan tetap memegang selembar lkpd, kelompokku mengambil banyak foto dokumentasi tentu untuk kenang-kenangan, belum ada kesempatan pergi ke Sumatera jadi kami harus mengabadikan banyak momen di sana bukan.

Bisa karena terbiasa, sampai proyek sekolah terakhir mungkin kelas kami bisa melakukan dengan baik. Dan baik-nya setiap kerja sama dalam kelompok tentu punya kriteria yang berbeda. Intinya, kami berusaha agar kelas itu selalu bisa kompak, walaupun banyak hal yang tidak sesuai ekspektasi kami semua.

TAMAT BELAJAR “MEMBACA” HANGUL

Akhir tahun 2023, sekolah menerima relawan seorang native speaker korea yang bersedia mengajar bahasa korea setiap hari jumat. Sejak lima tahun yang lalu aku memang mulai menggemari korean pop group dan hal ini yang menjadi alasan kuat untukku mau mengikuti kelas bahasa korea. Walaupun hanya sekitar 3 bulan, tapi membantuku sedikit menguasai cara membaca hangul atau aksara korea. Relawan itu bermarga Choi, jadi ayo panggil Choi seonsaengnim. Beliau mengajarkan berbagai kebudayaan korea bukan hanya bahasanya, membuatku tahu beberapa lagu tradisional mereka seperti “Arirang”, istilah lain korea yang dikenal 한국 (Hanguk) tapi juga ada panggilan “Daehanminguk”, manner kepada yang lebih tua atau yang lebih muda, bahkan kami pernah membuat minuman bersama namanya 화체 (Hwachae) yang identik berisi buah semangka, walaupun menurutku itu es buah versi korea. Tidak mau kalah, anggota kelas korea pun kadang memperkenalkan budaya Indonesia kepada Choi seonsaengnim dan kelas itu menjadi tempat sharing yang luar biasa.

Awalnya sedikit sulit untuk belajar karena keterbatasan komunikasi, saat itu Choi seonsaengnim belum fasih berbahasa Indonesia dan anggota kelas korea pun tidak terlalu paham yang dibicarakan oleh beliau. Tapi, dengan sedikit campuran bahasa Inggris sedikit memudahkan kami untuk mengerti satu sama lain. Lalu, semuanya mengalir begitu saja dan terjadi sangat cepat. Waktu yang mungkin terlalu singkat, tapi dapat menambah pengalamanku yang tidak seberapa dan membuatku semakin mempunyai rasa semangat agar bisa menggunakan bahasa korea. Yah setidaknya kini aku bisa membaca aksara nya sebelum memahami dan menggunakannya.

KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Salah satu perubahan besar dalam hidupku adalah mengambil langkah berani yang bahkan pada awalnya aku merasa tidak akan sanggup menjalankannya. Pernahkah terlintas dalam benak anak pendiam itu menjadi pengurus organisasi di sekolah? Bahkan jawabannya sudah pasti “NO!” dan entah bagaimana mulanya tapi aku memberanikan diri keluar dari zona nyaman sebagai siswa biasa selama 3 tahun terakhir membuat aku yang lama lenyap sudah. Kelas sepuluh kala itu aku terpilih sebagai ketua ekstrakurikuler baru, Club Bahasa. Mungkin bagi orang lain hal ini tergolong biasa, tapi bagiku ini adalah awal dari terbentuknya Syifa yang ada sekarang ini. Takut, gugup, helaan nafas yang berat, dan semua perasaan campur aduk itu membawa banyak perubahan bagiku. In fact, I proved that “I can do it” because of this decision. Tentunya karena support dari teman-teman dekatku juga pembina yang sungguh luar biasa, membuat aku selalu antusias dalam menjalaninya.

Kegugupan melanda diriku saat kumpulan pertama pada tahun ajaran baru 2024/2025. Kala itu, diluar ekspektasi semua teman-teman organisasi ku banyak siswa baru yang mengikuti Ekstrakulikuler Bahasa atau di S1CIKAL bernama LCC (Language Club Course). Tentu aku sedikit takut berbicara didepan banyak orang, namun ku usahakan agar first impression itu menjadi unforgettable memories untuk semua orang. Entah bagaimana pandangan orang-orang terhadapku, tapi ku harap saat itu tidak seburuk yang kukira. Sepertinya aku mulai membiasakan diri sejak itu dan berusaha agar terlihat percaya diri.

Luar biasanya aku mulai berani menunjukkan diri kepada semua orang, mempunyai banyak teman dari kelas berbeda, tidak malu memulai bicara terlebih dahulu, dan selalu berusaha memperlihatkan sisi ceria semaksimal mungkin. Pelajaran terbesar yang selalu aku ingat adalah berani untuk mengakui kesalahan diri sendiri dan tidak takut salah. Inilah yang membuatku menyadari bahwa salah satu tujuanku sudah terpenuhi, saat ini adalah pencapaian terbesarku dari sebuah langkah dalam mencari jati diri. Entahlah, tapi memang hal itu sangat berpengaruh bagi hidupku.

MAPEL MINAT?!

Hari itu aku bingung karena harus mengisi pendaftaran mata pelajaran peminatan untuk siswa tahun kedua. Ini kebijakan baru dan diterapkan sejak dua tahun diatas angkatan ku. Dan setelah mempertimbangkan semuanya, mencoba mencari tahu minat sendiri kemudian aku berbincang dengan orangtua untuk hal ini, aku memutuskan mengambil kelas Biologi, Kimia, Matematika tingkat lanjut, dan Bahasa  Inggris tingkat lanjut. Awalnya aku tidak memberitahu sahabatku, kita tidak berdiskusi akan mengambil mata pelajaran apa. Tapi layaknya kejutan, ternyata kami mengambil kelas minat yang sama, hebat sekali.

Nah, kali ini adalah cerita hari pertama kelas peminatan. Aku ingat saat itu adalah hari rabu minggu pertama masuk sekolah sebagai anak tengah S1CIKAL. Sebenarnya sempat takut karena sekelas dengan orang baru lagi, namun lama-lama ternyata seru juga. Bersosialisasi tidak seburuk itu, dan mencoba terbuka dengan orang lain tidak selamanya salah. Mungkin minggu pertama masih bisa kutangani, ternyata tidak lama kemudian memang banyak sekali penugasan bukan hanya dari kelas wajib tapi ditambah kelas minat juga membuatku selalu “Ya Allah, Ya Allah” every moment. Mungkin terlalu hiperbola tapi itulah yang melekat dalam ingatan. Yah saat itu aku hanya mencoba untuk menjalaninya dan mulai mengalir begitu saja.

Sempat aku berfikir sepertinya salah mengambil mata pelajaran minat. Saat itu, akhir pembelajaran bab 1 di kelas Kimia. Ibu guru memberitahu akan ada ulangan harian sebagai nilai akhir bab, dan kalian tahu… aku ingin sekali menangis dengan hasilnya, karena aku mendapatkan nilai jauh dibawah KKM (saat itu aku mendapat nilai ∫₀⁵ (4x + 2) dx − 10). Sepulang hari itu aku merenungkan hasilnya dan muncul pertanyaan “apa aku salah pilih mapel minat?” Tapi nasi sudah menjadi bubur, lalu aku ingat ucapan guruku dulu- kalau kamu mau bisa sesuatu kamu harus sukai dulu. Aku sadar kala itu sejak kelas sepuluh aku memang sedikit tidak suka terhadap kimia hmm… dan mulai dari sana aku bertekad untuk memahaminya, saat inipun aku masih berusaha. Dari situ juga aku belajar bahwa gagal itu hal biasa, semuanya akan baik-baik saja kalau kita tidak menyerah dan selalu berusaha.

CARA BERTAHAN

Never stop learning, because life never stop teaching. #Emmily Vara

Setelah diingat-ingat ternyata selama tiga tahun terakhir aku sangat sering mengalami apa yang orang banyak menyebut hal itu “Nice Try”. Kita mulai dari semester kedua di tahun pertama. Aku mengikuti kompetisi Story Telling di salah satu sekolah tinggi untuk pertama kalinya, dan sesalnya adalah aku menempati posisi keempat dengan selisih 0.5 poin dari posisi ketiga. Lalu akhir semester satu di tahun kedua aku mengikuti Kompetisi Cerdas Cermat Matematika di sebuah kampus dan saat babak penyisihan tim ku berada di posisi kedua belas sedangkan untuk lolos ke babak selanjutnya diambil hingga posisi sembilan. Speech Competition, Chemistry Competition, Biology Quiz, KSN, dan hal setingkat perlombaan antar kelas aku mengikutinya. Sebetulnya tidak terlalu sering aku mengikuti perlombaan-perlombaan, pun sebagian besar sudah ku ceritakan.

Pernah suatu ketika aku mengikuti perlombaan pidato antar kelas. Kalau tidak salah ingat kala itu akhir semester 2 di tahun pertamaku. Tidak tahu hal ajaib apa yang membuat ku berani mengikuti lomba pidato yang belum pernah sama sekali pun aku ikuti sebelumnya. Lalu di sanalah terjadi hal memalukan, saat membaca potongan ayat Al-Qur'an aku yang mula-nya menunduk memberanikan diri mengangkat kepala, tapi hal mengejutkan terjadi- aku bersitatap dengan salah satu juri dan boom… hilang semua hafalanku yang sontak membuatku berhenti melanjutkan bacaan ayat tersebut, aku lupa dan terdiam sejenak melihat juri, melihat teman-teman kelas ku yang menonton dari bawah podium, dan mencoba mengingat lanjutannya. Ya, itu tidak bisa kulupakan dengan mudah karena aku merasa sangat malu walaupun pada akhirnya aku mengingat lanjutan ayatnya dan mengulang bacaan dari awal, namun masih jelas dalam ingatan ku bagaimana paniknya saat itu. Dan setelah pengumuman hasilnya diberikan, rasa malu itu terobati sedikit karena aku mendapatkan posisi ketiga. Tapi yang paling parahnya aku sempat menghindari untuk bertemu para guru yang menjadi juri kala itu, entah, aku hanya merasa itu hal yang tidak seharusnya terjadi walaupun tetap tidak bisa dihindari, maka saat bertemu aku selalu menunduk menyembunyikan wajah sembari meminta salam.

Mungkin dari kompetisi-kompetisi itu mendapatkan juara bisa dihitung jari, namun aku selalu ingat bahwa hal terbaik adalah pengalaman dan keberanian serta kemauan untuk mencoba hal yang belum tentu orang lain mempunyai kesempatan yang sama sepertiku. Jadi, aku berusaha untuk tetap bersemangat se-lelah dan sesedih apapun itu akan hasilnya, bahkan ketika diragukan oleh orang terdekat sempat membuatku meragukan diri sendiri. Namun, dibalik itu hal pentingnya adalah bagaimana diriku tumbuh dengan setiap prosesnya. Bukannya hidup ini secara garis besar adalah seberapa jauh kita berkembang dan tumbuh, maka dari itu aku selalu mencoba memanfaatkan segala kesempatan yang ada.

PEMBAWA WARNA BARU

Tidak jauh berbeda seperti remaja lain, aku pernah mempunyai seseorang yang selalu aku cari-cari keberadaannya. Saat itu aku masih bingung dengan perasaan baru yang muncul dengan tiba-tiba membawakan warna yang amat asing, bahkan sampai detik aku menulis bagian ini masih belum ada jawaban untuk hal kecil ini. Kalian tahu? Setiap upacara hari senin pun masih sempat ku lihat “dia” diantara ratusan orang, entah hal ajaib apa tapi aku begitu piawai menangkap siluetnya seramai apapun itu. Dan ketika temanku bertanya, “apa sih yang kamu suka dari dia?” Sontak aku jawab tidak tahu, karena memang tidak ada alasan yang bisa aku mengerti.

Suka tanpa karena bukan lagi ketertarikan melainkan cinta.

Tapi, ini terlalu serius untuk dianggap cinta, bukannya keren malah aku rasa ini terlalu konyol. Jadi, anggap saja ini adalah kekaguman semata karena perilaku unik dari salah satu makhluk tuhan. “Wah… gak bener nih kemana Syifa yang aku kenal?” iya, masih terngiang bagaimana ketusnya sahabatku mengatakan itu. Ada hal yang aku pikir cukup lucu karena faktanya adalah aku mengaguminya selama dua tahun terakhir tanpa ada niat untuk mendekat, aku tidak berpikir sejauh dan seserius itu. Bisa dibilang aku tidak meladeni perasaanku sendiri karena aku masih mempunyai tujuan lain yang lebih penting dari ini.

Sejujurnya, sempat ragu untuk menulis bagian ini, tapi walaupun singkat tidak dipungkiri bahwa poros hidupku sedikit berubah karena mengalaminya. Dan let's say hello to myself in the future apakah menyesal menambahkan bagian ini? Atau kamu udah lupa bagian kecil ini? Diluar kedua hal itu, niatku menulis bagian ini adalah hanya untuk mengabadikan sepotong momen kecil yang pernah kualami. 

TIGA TAHUN SORAI KARNAVAL KELAS

Setiap perayaan hari kemerdekaan kelas kami selalu berpartisipasi dalam karnaval dengan rangka memeriahkan peringatan HUT Indonesia. Tahun pertama, entah tema apa itu. Yang kuingat saat itu kami memakai baju hitam dengan kain batik sebagai ciri khas yang menunjukan identitas budaya Indonesia. Berbeda dari kelas lain, kelasku mengambil tema yang amat sangat sederhana karena hanya membuat hiasan kepala untuk setiap siswa kelas itupun bermodal tutorial lewat internet. Bahkan aku pun terkejut semeriah apa kelas lain mengikutinya, ada sedikit penyesalan karena tidak menyiapkan dengan baik. Maka dari itu, ketika karnaval di tahun kedua kelas kami berubah menjadi tempat pengrajin, kami membuat gaun dari kertas koran dan mengerjakannya selama satu minggu mungkin, tentu dengan keluhan semua orang karena lelah, pulang terlambat, sementara banyak tugas lain menumpuk. Tapi, hal itu impas dengan hasil yang didapatkan. Sekecil apapun itu, aku bangga.

Tibalah di tahun terakhir, beberapa bulan lalu adalah tema paling terstruktur yang diambil kelasku. Konon katanya “ter-akhiran”, semua temanku sepakat membeli sapu tangan yang sama, membuat banner sesuai tema, bahkan membuat properti dalam waktu yang lama, tema kali ini adalah Pirate & Cowboy dipadukan batik lewat pola sapu tangan yang jadi hiasan ikat kepala, ini menjadi identitas terakhir dari ekstensi kelasku dalam kegiatan karnaval di S1CIKAL. Aku gembira karena antusias semua teman kelas dan nanti pasti datang kerinduan akan suasana di kala itu, walaupun lucunya adalah properti yang telah kami buat tidak jadi dipakai dan- pip…

JADI SUPPORTER POWER F

Selain karnaval, acara tahunan lainnya adalah PORAK (Pekan Olahraga Antar Kelas). Disini peranku adalah sebagai supporter, memberi minun para pemain yang bertanding, bertepuk tangan paling keras, mengawasi setiap lomba yang diadakan ketika giliran kelasku tiba dan memberi dukungan… dalam hati. Tentu hal ini ada alasannya, dalam olahraga aku sangat-sangat-sangattt tidak pandai, mungkin sedikit bisa berenang dan bermain badminton, atau kasti?! Yang paling mudah sih senam irama pun senam lantai aku hanya piawai melakukan sikap lilin. Intinya aku tidak tahu apakah betul-betul bisa atau tidak jadi daripada merusak semangat dan hanya menjadi beban aku memutuskan sadar diri dan menjadi supporter saja, bukankah lebih baik mencari aman.

Sedikit toleransi untuk bercerita betapa tidak pandainya aku dalam bidang olahraga. Saat itu ada tes lari 12 menit mengelilingi lapangan, aku sudah berlari sekuat tenaga, napas yang terputus-putus, bahkan karena setelah makan mungkin isi perutku agak terguncang. Dan ya aku hanya mendapatkan tepat dua belas putaran, hasilnya masih sama seperti terakhir kali aku tes  di sekolah menengah pertama artinya tidak ada perkembangan. Lalu, tes di semester selanjutnya aku mencoba untuk lebih pandai dalam mengatur napas saat berlari, dan hasilnya adalah 12,5 putaran, oh my god… setelah semua perjuangan itu hanya bertambah setengah lapangan. Ya, daya tahanku yang lemah dan mudah sesak ini harus berkelahi dengan tes lari dua belas menit.

ANY MOMENT I

Akhir kegiatan “SMARTREN” atau SMA Pesantren pertama kalinya yang aku ikuti di S1CIKAL selalu melekat dalam ingatan. Kegiatan ini diadakan setahun sekali bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan. Ketika puncak acara tiba yaitu pembagian ratusan sembako kepada warga sekolah dan warga sekitar- di lapangan aku duduk di barisan paling depan, aku lupa kenapa bisa duduk terlalu depan. Alhasil aku menjadi sasaran empuk salah satu guru PAI yang menyuruhku menyampaikan kesan dan pesan selama kegiatan berlangsung. Kurang dari tiga menit aku menyiapkan diri dan keberanian lalu maju ke atas podium. Yang membuat terkejut saat turun dari podium temanku mengobrol dengan salah satu guru dan bilang, “wah hebat pak, berarti disiarkan di TV dong-” hah… setiba-tiba itu, lalu sore harinya melalui grup ekstrakurikuler disebarkan redaksi bahwa S1CIKAL akan ditayangkan dalam siaran berita salah satu channel TV Bandung pukul 21.10 WIB. Apakah aku menontonnya tentu tidak karena aku sudah tidur pastinya. Tapi paginya, aku di beri link oleh bapak pembina ekstrakurikuler-

> Syifa masuk TV, ini pertama kalinya walaupun hanya beberapa detik dan walaupun aku tidak mengerti apa saja yang aku ucapkan wkwk. Maka dari itu, hal ini pun menjadi salah satu unforgettable memories dalam perjalanan ku menjadi warga S1CIKAL. Masuk TV loh ini huwaa…

ANY MOMENT II

Berpartisipasi dalam kegiatan yang lumayan menantang, aku mengikuti LDKS tahun 2024. Disana tentu aku belajar banyak hal, mulai dari memperoleh keberanian, berbicara dengan lantang, tidak malu bertanya, kedisiplinan, dan kebersamaan. Waktu itu semua perwakilan ekstrakurikuler S1CIKAL angkatan 42' berkumpul mencoba mengikuti seluruh instruksi dari kakak kelas yang menjadi panitia. Sedih senangnya aku rasakan saat itu, kegugupan pun masih sedikit membekas dalam hati. Aku terlalu pemalu untuk berbaur dengan orang-orang asing, tapi disana perasaan itu harus dikesampingkan karena kita harus selalu bekerja sama apapun keadaannya, kasarnya lewat tatapan mata pun kita harus mengerti satu sama lain.

Tidak terasa waktu selalu berjalan, tahun ini aku dipercayai menjadi salah satu fasilitator LDKS. Dan dalam hati aku berteriak- the time has finally come! Memang kegiatan ini yang paling ditunggu-tunggu karena kini posisinya aku sebagai kakak kelas. Entah pendapat siapa tapi aku terpilih menjadi fasilitator pendamping peserta putri, sempat ragu awalnya namun aku berusaha untuk melakukan yang terbaik. Dengan rekanku yang merupakan pendamping peserta putra, kami selalu berdiskusi untuk mencoba interaktif kepada para peserta. Sepertinya di setiap kegiatan LDKS social battery ku selalu dioptimalkan lalu saat pulang tentu dengan sedikit tenaga aku menyiapkan pembelajaran esok hari, cukup melelahkan tapi sangat menyenangkan. Bahkan saat penutupan tiba aku berkaca-kaca karena bersyukur aku bisa membimbing mereka sampai kegiatan berakhir dengan cukup baik.

ANY MOMENT III

Mari bercerita lebih panjang sedikit. Minggu ini adalah puncak acara Creamolague dan Bulan Bahasa S1CIKAL, Intrakurikuler OSIS dan MPK berkolaborasi dengan Ekstrakulikuler Bahasa dan Seni untuk event tahunan ini. Saat puncak acara banyak hal luar biasa, menyenangkan, lucu, dan diluar prediksi. Yang paling menarik menurutku adalah mata lomba Cosplay, setiap kelas mengirimkan cosplayer yang keren dan unik. Ada yang menjadi karakter animasi jepang, ada yang menjadi hantu, karakter Mariposa, kura-kura ninja aku lupa nama animasinya, Mario dengan koin besarnya, dan yang paling lucu adalah karakter Kungfu Panda animasi favoritku sejak kecil. Namun, hal menarik lainnya kala itu bertepatan dengan perayaan hari guru nasional, para guru disekolahku mengadakan Cosplay menjadi siswa, memakai seragam bahkan mendalami karakter siswa yang identik dengan berbagai macam karakter. Disana semua murid tertawa melihatnya, tepuk tangan riuh dan banyak orang bersorak dengan keras.

Saat itu semuanya tampak bersemangat, tapi aku merasa sedikit sedih dan ada perasaan asing yang muncul entah karena apa itu. Mungkin aku menyadari sebentar lagi aku lulus dan tidak lagi menjadi seorang anak sekolah yang memakai seragam ketika berangkat sekolah lalu bertemu teman dan hanya duduk memerhatikan penjelasan guru didepan kelas. Apakah orang dewasa pernah merindukan masa yang sedang kualami ini? Apakah para guru didepan pernah ingin menjadi murid kembali yang tugasnya hanya belajar dan mendengarkan dengan baik dikelas? Apakah suatu saat aku rindu menjadi anak sekolah lagi? Banyak pertanyaan muncul dalam kepala ditengah keramaian saat itu. Aku juga sadar bahwa tidak heran guru sangat memahami muridnya karena mereka yang kini menjadi orang hebat pernah menjadi seorang murid pula. Pada masanya, mereka pernah menjadi seperti kita dan dimasa depan kita yang akan menjadi penerus mereka.

Siangnya, aku dan teman-teman kelas menonton penampilan dari peserta top 6 S1CIKAL GOT TALENT yang hampir semuanya menampilkan bakat menari mereka baik itu tarian tradisional atau tarian modern. Salah satu teman kelasku berhasil tampil juga, kami meneriakkan dukungan sekencang mungkin dari area penonton. Bahkan ternyata begitu terkenalnya temanku itu, semua orang ikut berseru meneriakkan namanya. Di Tengah acara ada pembagian doorprize, di sesi ini aku akan maju kataku kepada sahabatku. Sahabatku pun mengiyakan dan meyakinkan setengah memaksa ku untuk maju. Pertanyaan pertama aku ragu, pertanyaan kedua aku malu, pertanyaan ketiga makin malu, dan pertanyaan keempat aku baru berani maju lalu hal kocaknya sahabatku pun maju di pertanyaan kelima, akhirnya kami mendapat hadiah bersama-sama. Kelucuan lainnya adalah aku menginginkan hadiah buku tulis atau hal lainnya yang bisa dipakai untuk belajar seperti apa yang sahabatku dapatkan, tapi ternyata panitia memberikan sebuah hadiah berupa kain pel, ya, sepertinya mereka tahu kalau aku adalah anak yang rajin bersih-bersih rumah ketika hari libur.

Tidak lama setelah itu adalah pengumuman kejuaraan, aku sebagai Ketua Kelas masih berada di lapangan harapan terbaiknya menunggu kalau-kalau kelas kami mendapatkan juara ada yang mewakili, karena yang lain sudah pulang. Saat itu hanya tersisa beberapa siswa di sekolah, aku duduk di barisan paling depan area penonton bersama sahabatku, ya, hanya berdua, tidak tahu yang lain kemana tentu dengan setianya aku masih membawa-bawa kain pel doorprize. Selagi menunggu pembagian piala kejuaraan tentunya kami berdebat, menentukan siapa yang akan mendapat tempat pertama di perlombaan yang masing-masing dari kami ikuti. Dia mengikuti monolog, dan aku mengikuti story telling, hmmm ya anggap saja perdebatan tadi tidak berarti karena masing-masing dari kami berdua tidak ada yang percaya diri akan mendapatkan juara satu. Namun, ternyata kami saling melemparkan senyum setelahnya, ya seperti yang kubilang sudah ku pastikan dia bisa mendapat posisi pertama dan dia pun yakin aku berada di posisi pertama, lalu kedua hal itu terbukti benar adanya. Hari itu aku maju kedepan beberapa kali untuk mewakili teman-teman kelas yang tidak ada, sampai bapak guru bertanya “maju apalagi Syifa” dengan suara setengah tertawa, “hehe… perwakilan kelas, bapak” jawabku sungguh malu. Lalu kegiatan di sekolah ditutup dengan aku yang pulang sembari setia membawa kain pel doorprize.

KERLIPAN PELANGI DI CELAH WAKTU

Dibalik sedih dan beratnya selalu ada sekecil kebahagiaan dan segunung pelajaran yang aku dapatkan. Aku yang kini hampir lulus menyadari bahwa banyak sekali kebahagiaan di lingkungan sekolah, lelucon konyol yang terlontar pasti akan dirindukan kehadirannya. Setiap masalah kecil yang dibesar-besarkan pasti akan menjadi hal lucu pada masanya. Aku tidak banyak berharap, tapi semoga kami semua bisa menghabiskan masa sekolah ini dengan bahagia, sebelum kami menuju kehidupan nyata yang entah sesuai dengan bayangan kami atau tidak.

Sejak tahun pertama, banyak tantangan yang kualami baik itu tentang pelajaran atau bahkan pertemanan. Aku sempat sedih memikirkan pertemanan lamaku dengan sahabat dekat masa SMP, kami sudah sibuk dengan urusan masing-masing walaupun kadang kala masih saling berkabar. Lalu, seiring berjalannya waktu bukan aku melupakan mereka hanya ada benarnya kata orang “setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya” mungkin mereka pergi setelah masanya selesai dan meninggalkan jejak ingatan masing-masing yang selalu tersimpan di tempatnya sendiri dalam hati, karena itu aku memutuskan melanjutkan langkahku juga tanpa pernah melupakannya. Kemudian, mungkin dua tahun lalu adalah masa untuk mengukir kembali memori baru pun dengan orang baru. Dan kini, seberapa siap melakukan perpisahan kembali dengan orang-orang disekitarku yang sebentar lagi masanya akan selesai juga?

Kebahagiaan itu muncul dari hal kecil dan ini adalah versi ku. Ketika kelas sepuluh bahagia ketika ada proyek berkelompok, ya, dulu aku senang dengan hal itu, mungkin karena baru pertama kali melakukannya dan dengan bebas aku dapat mengeluarkan ide-ide yang ada dalam kepala, aku menikmati prosesnya karena melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan. Kelas sebelas nya mulai bahagia ketika proyek yang ditugaskan selesai, rasanya seperti ada kelapangan dalam hati setelah membereskan semua tugas yang ada. Dan kelas dua belas bahagia ketika ada jam kosong walaupun hanya satu jam. Aku tidak tahu mengapa, tapi akhir-akhir ini aku mulai menyadari banyak hal yang sebelumnya tidak pernah aku perhatikan. Ketika jam kosong biasanya aku hanya diam dan mengerjakan tugas lain, tapi ada hal yang terlewatkan, jam kosong itu digunakan teman-teman kelas untuk menghabiskan waktu bersama dengan berbagai cara.

TERIMA KASIH UNTUK ORANG-ORANG TERKASIH

Sejauh aku melangkah, seberapa keras aku berusaha, dan sebesar dukungan yang aku dapat, aku selalu bersyukur dan berterima kasih. Terima kasih kepada Ayah Ibu dirumah, kepada bapak ibu guru yang mendidik dan mengajar, teman-teman semua, teman kelas, teman organisasi, teman lama dan baru yang namanya tidak sempat jika disebut satu persatu, serta sahabat-sahabat dekat yang luar biasa aku ucapkan terima kasih banyak sudah bersedia menemani, mengenal, dan mendampingi selama ini. Senang dan bangga rasanya bertemu banyak orang hebat di S1CIKAL.

Untuk bapak ibu guru yang hebat, jasa kalian semua akan selalu berarti dalam hidup kami sebagai muridmu. Walaupun sama-sama lelah, mengajar dari pagi sampai sore bapak ibu rela, menghabiskan sebagian besar waktu untuk mendidik anak orang lain agar menjadi orang sukses suatu hari nanti seperti harapan bapak ibu semua, sementara waktu untuk keluarga maupun diri sendiri hanya sebagian kecil yang terluangkan. Terima kasih atas keikhlasannya bapak dan ibu, mohon maaf jika sebagai muridmu belum bisa patuh dan selalu membebani bapak ibu.

Untuk para sahabat Syifa; Téh Ayla, Nabila, dan Eri, walaupun tidak selamanya kenangan gembira, sempat bertikai, atau berbeda pemahaman, tapi percayalah aku selalu mencoba menjadi sahabat yang baik dan mencoba menjadi orang yang bisa mengerti kalian. Terima kasih ya sudah mau menjadi orang yang berusaha mengenal Syifa dengan baik. Dan kepada Téh Clorina teman sebangku selama tiga tahun, aku ucapkan terima kasih banyak ya, kadang aku berpikir lucu apakah Téh Clo nyaman aku ajak duduk didepan? setelah membaca ini kamu bisa bicara jujur kalau benar selama ini memang tidak nyaman duduk ditempat yang sama dengan orang yang sama selama tiga tahun? Maafkan aku ya. Terlepas dari semua hal, kalian akan selalu menjadi bagian penting dalam sejarah hidup ini!

Kepada semuanya, terima kasih sudah menjadi bagian dari masa putih abu ini. Tanpa kalian semua, tidak akan ada Syifa seperti saat ini. Semua amanat, lelucon, pelajaran, dan segala hal lainnya akan selalu aku rindukan kehadirannya, karena orang-orang baik di sekeliling ku ini terlalu berat untuk ditinggalkan. Kelak ketika masa pertemuan kita sudah selesai jangan lupa aku ya, dan jika memang jodoh kita pasti berpapasan kembali. Jadi, sampai jumpa, see you, 또 만나요, ayo bertemu lagi dilain waktu dan buat kenangan yang lebih indah.

SEJUTA HARAPAN MASA DEPAN

Harapan. Banyak orang pasti memiliki banyak harapan terlepas besar dan kecilnya sesuatu yang diharapkan. Pun saat ini aku mempunyai banyak harapan dan impian, tapi impian terdekatku adalah semoga aku bisa membuat banyak kenangan yang belum sempat terukir di masa SMA ini. Semoga kata “terakhir-an” ini bukan akhir dari segala hubungan yang pernah terikat. Semoga kita bisa mencapai segala sesuatu yang diharapkan. Semoga kita bisa bertemu kembali dilain waktu dengan keadaan terbaik dari diri masing-masing. Dan semoga segala impianku itu dapat terwujud. Aamiin

TRAVEL IN TIME










PENUTUP

Cerita ini mungkin tidak se-seru cerita orang lain. Masih banyak momen kecil yang belum sempat tertulis tapi abadi dalam ingatan. Setiap kata dan kalimat yang ku tulis mungkin sedikit sulit untuk dipahami, tapi sejujurnya ini adalah ungkapan dari hati. Lewat tulisan ini aku bagikan sebagian kenangan dan tanda bahwa dulu ada seorang siswi biasa yang pernah mengukir dunia kecilnya di S1CIKAL, dia mencoba mencari versi terbaiknya, dan menemukan banyak hal baru tentang kehidupan disana. Entah apa yang terjadi di masa depan tapi semoga dia selalu bahagia dengan segala pilihan dan jalan hidupnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE IMPACT OF BOTTLE RECYCLING

  By Rizka, Sulis, Dela, Robi, Salman, Haikal Waste is the remaining product or item that is no longer used. There are 3 ways or methods to manage waste namely reducing, reusing and recycling plastic here will discuss about recycling the plastic bottle waste, recycling plastic bottle is very beneficial and has many positive impacts. Although some students actively participate in this practice, there are still many students who  cannot or refuse to recycle plastic bottles. The following is the impacts of recycling of bottle waste for our life From our interviews and research, several positive and negative impacts of recycling plastic bottle waste have been identified, such as air pollution, where certain methods of recycling plastic bottles can harm air quality. Recycling bottle waste can impact the quality of the product itself. Poor and inadequate management during production stages can result in low-quality products. Recycling plastic bottle waste also leads to an increase i...

Story at School

 Rika Dimas Fitria  XII.i B.Indonesia Story at School Kelas X  Pada suatu hari,,saya telah lulus MTs sampai orang tua meneruskan saya ke Sekolah SMAN 1 Cikalongwetan ini,lalu saya daftar ke SMAN 1 Cikalongwetan bersama kakak dari pagi sampai jelang malam,sampai menunggu pengumuman diterima atau tidaknya,sampailah Alhamdulillah saya diterima disekolah ini.Lalu salah satu teman sosmed menghubungi saya bahwa kita sekelas,dia bernama Shifa Sulastri.karena sekolah ini pada era covid kita sekolah dibagi sesi pertama dan kedua lalu saya sesi dua sampai bertemu pada pertemuan sekolah saya bertemu dengan Shifa langsung,tidak hanya Shifa bahwa saya juga sekelas dengan temen SD saya yaitu Siti Sopiah,sampai pada hari-hari berikutnya saya berkenalan dengan teman yang lainnya seperti N.Sani,Suci dan yang lainnya.Lalu wali kelas X kita adalah ibu Amila sholihah lalu saya mengerjakan tugas sebagian BDR dan diadakannya projek Pertama yang berjudul KTI (karya tulis Imiyah) dan disatukan k...

CERITA YANG TIDAK AKAN BERAKHIR

Saskia Agustin Masa corona akhirnya berakhir, semua yang berada di rumah akhirnya kembali menjalani kehidupan seperti semula walaupun masih identik dengan pemakaian masker yang wajib dipakai apabila akan keluar rumah. Seperti halnya denganku, saskia. Mulai kembali menjadi siswi yang berangkat pagi untuk ke sekolah, yang juga seperti itu. Pembelajaran di sekolah masih belum efektif ternyata, jadi para guru memberikan alternatif agar bisa melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah dengan menerapkan sistem yang dikelas para murid dibagi 2 atau dengan sebutan sesi a dan b.  Belum begitu banyak mengenal siapa saja yang ada di kelas hanya satu, siti. Unik memang ketika Aku menyangka kalau Siti itu orangnya memiliki badan yang tinggi hahah. Alurnya singkat sampai tanpa tidak sadar kalau kita sudah begitu dekat tapi bukan hanya siti ada satu orang lagi yang sampai sekarang dekat denganku dia Rahma, orang ketika mendengar namanya pasti akan langsung bilang " anu pinter tea", asli mema...